Aku yang Malang di Setiap Hari Ulang Tahunku

Sebuah Cerpen 

Oleh : Lilis Marlina

15 menit berjalan di bawah teriknya sinar matahari membuatku lelah dan memutuskan untuk istirahat sekejap, namun aku tidak menemukan tempat untuk duduk berteduh.

Hai, kenalkan, aku gadis malang yang selama hidupku aku tidak pernah merasakan indahnya momen hari ulang tahunku. Betapa menyedihkan ketika melihat tawa bahagia teman-temanku setiap hari kelahirannya. Meniup lilin, memotong kue ulang tahun, bahkan terkadang mentraktirku dan teman-teman lainnya. Sungguh momen yang sangat bahagia. Amat sangat berbeda denganku, yang selama hidupku tidak pernah merayakan hari kelahiranku. Padahal aku sering merengek meminta kepada orang tua dan kakak-kakakku agar mereka mengabulkan permintaanku untuk merayakan hari ulang tahunku meski satu kali saja. Namun sayang, orang tuaku bersikukuh untuk melarangnya. Aku sungguh kesal, marah, dan sedih!

Suatu saat di hari ulang tahunku yang ke-13, aku kabur dari rumah menuju rumah nenek yang bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 30 menit. Kususuri jalan sendirian meski memang ada rasa takut, namun saking kesalnya aku berusaha melawan rasa takut itu. 15 menit berjalan di bawah teriknya sinar matahari membuatku lelah dan memutuskan untuk istirahat sekejap, namun aku tidak menemukan tempat untuk duduk berteduh. Lalu aku putuskan untuk terus berjalan meski di bawah sengat sinar matahari . Beberapa menit kemudian kutemukan sebuah masjid . Yeay,,  akhirnya aku bisa istirahat sebentar untuk meluruskan kakiku yang lesu ini akibat berjalan kaki (maklum, aku orangnya jarang olahraga jadi baru jalan kurang dari satu kilo aja udah ngos-ngosan hehehe). Ouh.. akhirnya bisa rebahan sebentar. Ups, ternyata dimasjid ini disediakan air minum gratis juga, wah cocok sekali buat diriku yang kelelahan ini hihi. Glek glek alhamdulillaah, lelahku berkurang setitik hihi. Sambil duduk dan rebahan kembali di selasar masjid, terdengar dari dalam masjid sang ustadz muda nan kece yang sedang ceramah, suara jama’ah pun terdengan dan kayaknya seru tuh pengajiannya, soalnya ustadznya banyak ngelawak. Aku lumayan penasaran, akhirnya dari samping pintu aku menyimak ceramahnya ustadz tersebut.

Wow ustadz muda ternyata, namanya ustadz Farel. Aku makin semangat nih mendengarkan ceramahnya. Ternyata materi yang dibahas itu tentang perayaan ulang tahun dalam Islam!!! Wadaw kok bisa related gini ya hihi. Ustadz Farel menjelaskan hadits

 

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. (رواه البخاري ومسلم) وَ فِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

Diriwayatkan dari Ummul-Mu’minin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah Radhiyallahu anha ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Barangsiapa yang menciptakan hal baru dalam perkara (ibadah) yang tidak ada dasar hukumnya, maka ia ditolak”. (HR al Bukhari dan Muslim). Dalam hadits riwayat Muslim: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa melakukan amalan, yang tidak didasari perintah kami, maka ia ditolak”.

Beliau menjelaskan sedetail mungkin hadist tersebut dan kaitannya dengan perayaan ulang tahun. Ternyata perayaan hari ulang tahun memang tidak dicontohkan rosulullaah saw. Ulang tahun adalah kebiasaan orang barat, meniup lilin itu kebiasaan orang kafir. Masa kita akan menirunya?

Naudzubillaah.

Lantas apa yang harus kita lakukan saat di hari kelahiran kita? Emmb jawabannya tidak ada yang spesial sih, justru dari hari ke hari kita harus bermuhasabah diri, mengevaluasi diri, dan meningkatkan derajat ketaqwaan kita , agar lebih baik lagi di hari esok.

Aku bersyukur dilahirkan di keluarga yang paham dengan agama. Dan aku sangat menyesal selama ini selalu marah apabila hari ulang tahunku tidak dirayakan sama sekali.

Ayah, Ibu, maafkan aku