Best Practice : Program Muhadoroh Santriwati ABS

Oleh: Lena Mardiana, S.Hum

Muhadhoroh secara bahasa berasal dari bahasa Arab dari suku kata hadhoro yuhaadiru muhadhorotan ,  yang artinya “saling hadir menghadiri”. Sedangkan menurut istilah Muhadhoroh adalah Proses kegiatan latihan pidato para santri agar terampil dan mampu berbicara di depan khalayak untuk belajar menyampaikan ajran ajran islam yang dihadiri oleh semua para santri. Istilah dari Muhadoroh secara umum adalah Public Speaking.

Aisyiyah Boarding School merancang program Muhadoroh bagi santriwati untuk mengembangkan Public Speaking sebagai salah satu kemampuan adab 21 yang penting dimiliki mulai saat ini yaitu berkomunikasi. Dalam pelaksanaannya Muhadoroh dilakukan menggunakan bahasa Arab dan Inggris, santriwati akan mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan sebelum tampil. Untuk menguasainya santriwati harus berlatih agar semakin terampil dalam menyampaikan pesan-pesan juga berbahasa (arab dan inggris). Untuk pengembangan diri kegiatan ini pula membangun kepercayaan diri santriwati untuk tampil dihadapan orang-orang.

Fasilitator program Muhadoroh memberikan tantangan kepada santriwati untuk mampu dan berani tampil, mereka akan diberikan jadwal bergiliran setiap minggunya. Permasalahan yang sering dihadapi oleh santriwati untuk melaksanakan kegiatan ini diantaranya adalah :

  1. Rasa percaya diri tampil di hadapan orang banyak menggunakan bahasa Arab atau Inggris
  2. Belum hafal Muqodimah pembukaan dan penutup Muhadoroh
  3. Gaya bahasa sebagai bagian dari adab berbicara di hadapan orang banyak
  4. Santriwati masih belum menguasai aspek non verbal seperti Intonasi, tempo, posisi berdiri, kontak mata dengan audience

Untuk mempersiapkan santriwati mengikuti program ini, fasilitator program Muhadoroh memberikan pembekalan teknis seperti :

  1. Tehnik menguasai materi, meliputi : pembelajaran muqadimah dan penutup, adab sebagai pembicara dan sebagai pendengar.
  2. Penggunaan bahasa dan gaya bahasa, biasanya pembelajaran ini sudah satu kesatuan dengan pelajaran bahasa Arab dan Inggris di sesi lainnya. Muhadoroh menjadi kegiatan praktik santriwati dalam berbahasa.

Fasilitator yang terdiri dari Musyrifah (Pembina Kepesantrenan) dan bidang Dirosah Islamiah melaksanakan kegiatan ini setiap hari Kamis atau Sabtu Malam. Selama pandemi Covid 19, Muhadoroh dilakukan secara daring menggunakan aplikasi Zoom pada hari kamis malam. Pada situasi sebelum pandemi kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Pesantren pada hari Sabtu malam, dan dihadiri oleh seluruh santriwati mulai kelas 1-3.

Santriwati akan digilir menjadi pelaksana kegiatan muhadoroh, pembagian peran seperti siapa yang jadi MC, Qoriah, Khatibah, dan Pembaca Doa. Fasilitator akan memberikan catatan-catatan pada pelaksanaan muhadoroh sebagai umpan balik dan refleksi bagi santriwati. Selain itu santriwati yang menjadi mustamik (pendengar, penyimak) juga diberikan tugas membuta ringkasan (resume) dari materi yang disampaikan, seperti mencatat kutipan ayat Al Quran atau hadis yang disampaikan Khatibah. Fasilitator akan mencatat hasil resume ini ke lembar kerja aktivitas santriwati, bahwa mereka telah mengikuti program Muhadoroh.

Tentu program Muhadoroh yang kami laksanakan ini masih jauh dari sempurna, berbagai masukan dan perbaikan secara berkelanjutan terus kami ihtiarkan. Dengan mengikuti muhadoroh diharapkan santriwati mampu menunjukan kemampuan terbaiknya selain itu menambah wawawan, pengalaman melalui kegiatan pembelajaran yang bermakna. Dengan adanya umpan balik dan refleksi selepas kegiatan antara fasilitator dengan santriwati, dari waktu ke waktu santriwati akan mampu dan berani tampil. Selepas dari pesantren ‘Aisyiyah Boarding School Bandung, kemampuan publik speaking seperti ini sangat dibutuhkan. Fasilitator dalam hal ini pembina kepesantrenan akan terus menyemangati, memotivasi agar santriwati memanfaatkan program ini dan berlatih terus menerus.