Best Practice: Program Pengembangan Diri bagi Santriwati

Oleh: Hilda Khairunnisa, S.Psi, M.Psi, Psikolog

Allah menciptakan manusia di muka bumi, salah satu tujuannya adalah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Sehingga setiap manusia adalah seorang pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri. Sementara itu, setiap manusia diciptakan Allah dengan keunikannya masing-masing, setiap orang memiliki sidik jari yang berbeda, kesukaan yang berbeda, IQ yang berbeda, bahkan pada anak kembar sekalipun, dan keunikan-keunikan lainnya. Melalui pengenalan dan pemahaman diri yang matang, seseorang akan dapat menetapkan tujuan yang tepat bagi dirinya sendiri. Dalam hal ini salah satunya adalah dalam hal kematangan karir. Untuk mencapai kematangan kerir, selain individu perlu mengenali dirinya, ia juga perlu memiliki wawasan yang luas mengenai kari-karir yang ada. Melalui pemahaman diri dan wawasan karir yang luas, seseorang akan dapat memilih karirnya dengan tepat, dan menjadi khalifah sesuai dengan potensi-potensi yang Allah berikan padanya. Dengan kematangan karir, seseorang akan mampu mengembangkan dirinya dengan baik, dan mampu berfungsi sebagai khalifah yang baik di muka bumi.

Salah satu tugas psikolog di pesantren ini adalah membuat program pengembangan diri bagi para santriwati. Pada santriwati setingkat SMA, persoalan kematangan karir ini menjadi semakin penting. Karena setelah lulus, mereka akan melanjutkan pendidikan ke Universitas dan lain sebagainya. Sehingga apabila mereka memiliki kematangan dalam pemilihan karir, mereka dapat menggunakan waktu secara efektif dan menjalani karir mereka dengan senang dan mampu berfungsi sebagai khalifah yang baik bagi diri dan karir yang mereka jalani.

Program yang diberikan kepada santriwati yaitu berupa informasi mengenai kepribadian, cara mengenali diri, diantaranya adalah minat dan potensi diri sendiri dan juga pemberian informasi  mengenai wawasan karir dan cara mencari informasi mengenai karir-karir yang diinginkan.

Santriwati setingkat SMA merupakan individu dalam fase perkembangan remaja menuju dewasa awal. Perkembangan kognitif mereka berada pada fase berpikir abstrak. Sehingga mereka mulai berpikir secara logis dan abstrak terhadap permasalahan. Selain itu, mereka lebih memperhatikan masalah moral, filosofi, etika sosial, dan isu-isu politik dan mulai berpikir dengan menerapkan konsep-konsep teori yang mereka pelajari.

Di sisi lain, perkembangan emosi santriwati setingkat SMA menjadi kurang emotional. Namun mereka juga mengalami periode kenaikan perasaan negatif yang lebih besar dari laki-laki pada usia mereka. Hal ini terkadang berpengaruh pada kemampuan berpikir abstrak mereka. Seiring dengan permasalahan sosial yang semakin kompleks yang dihadapi oleh santriwati, mereka seringkali mencari kelompok teman sebaya untuk mengelola emosinya. Kelompok teman sebaya yang positif, memperlakukan mereka dengan setara dan mendukung mereka secara emosional. Adapun teman sebaya yang negatif, tidak menerima mereka. Meskipun memiliki teman sebaya yang positif, mereka juga menunjukkan peningkatan emosi negatif seperti kemarahan dan kecemasan dalam kelompok mereka pada masa SMA ini.

Sehingga untuk membantu santriwati dalam pemberian informasi mengenai pemahaman diri dan wawasan karir, perlu memperhatikan kondisi emosi santriwati, dan juga menjalin hubungan yang positif dengan mereka serta mengaktifkan kemampuan berpikir abstrak yang mereka miliki.

Aksi yang dilakukan berupa: (a) pemberian informasi di dalam kelas dan juga (b) aktivitas outing untuk memperkaya wawasan karir dan memberikan pengalaman psikologis sebagai apersepsi dari karir yang akan dijalani.

Namun sebelum dilakukan hal tersebut, perlu diperhatikan kondisi emosi santriwati, serta menjalin hubungan positif dengan santriwati misalnya dengan sapaan, senyuman, menanyakan kabar, dan sebagainya.

Selain itu, dalam pemberian informasi, digunakan strategi yang mampu mengaktikan kemampuan berpikir abstrak santriwati setingkat SMA, diantaranya adalah:

  • Pemberian informasi mengenai kepribadian, meliputi tipe-tipe kepribadian, multiple intelellegence, mengenal emosi, motivasi dan values.
  • Latihan melakukan self-assesment untuk mengenali kepribadian diri, potensi diri, emosi diri, motivasi diri, dan nilai-nilai yang dianut oleh diri.
  • Pemberian informasi mengenai wawasan karir, diantaranya adalah; jenis-jenis pekerjaan, lingkungan kerja, jam kerja, tugas/pekerjaan yang dihadapi, tentang beasiswa, seleksi universitas, pembuatan portofolio diri, dan sebagainya.
  • Latihan mencari informasi mengenai karir yang diinginkan, melalui aktivitas penelusuran, interview, diskusi dengan orang tua dan guru.

Aktvitas outing yang diberikan berupa field trip ke Universitas dan Institut yang mengadakan open house dengan tujuan pengenalan jurusan-jurusan di Universitas dan Institut tersebut.

Output dari program yang telah diberikan kepada para santriwati setingkat  SMA ini dapat dilihat dari pemilihan jurusan yang diambil oleh para santriwati yang melanjutkan ke Universitas dan Institut merupakan pilihan jurusan yang telah mereka tetapkan berdasarkan hasil self assesment, dan juga setelah mereka melakukan penelusuran informasi secara lengkap serta mengumpulkan informasi dari aktivitas outing ke Universitas dan Institusi. Data alumni juga menunjukkan bahwa jurusan dan Universitas yang mereka ambil sesuai dengan prestasi yang mereka tampilkan ketika masih di pesantren.

Diantaranya adalah:

  1. Adila, dalam masa program telah menetapkan jurusan FSRD ITB, saat ini berkuliah di jurusan FSRD ITB
  2. Annisa, dalam masa program telah menetapkan jurusan Kimia, saat ini berkuliah di jurusan Kimia di UPI
  3. Zalva, dalam masa program telah menetapkan jurusan Al-Qur’an, saat ini berkuliah di Jurusan Ilmu Al-qur’an dan Tafsir di UIN Bandung
  4. Ghaisani, dalam masa program telah menetapkan jurusan Psikologi dan Pendidikan Bahasa Inggris, saat ini berkuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UIN Jakarta
  5. Dsb.

Sebagian besar menetapkan karirnya sesuai dengan hasil program yang telah dilaksanakan. Adapun yang menunda karirnya, mereka memiliki perencanaan aktivitas pengembangan diri selama menunda karir mereka tersebut.