Jika Rasa Malu Telah Hilang

Oleh : Radia Sihatma

Di era digital ini, terkhusus masa pandemi ini, tidak sedikit orangtua dan pendidik yang waswas terhadap anaknya yang semakin intens menggunakan gadget. selain banyak maslahat (kebaikan) yang diperoleh darinya (gadget), banyak pula mudharat (hal yang membahayakan) yang diperoleh darinya. Tergantung bagaimana memposisikan gadget dalam kehidupan di era digital ini.

Melalui gadget anak-anak memperoleh ilmu pengetahuan, wawasan dan kebaikan lainnya yang mungkin beberapa hal tidak ia dapatkan di sekolah ataupun lingkungan rumahnya. Akan tetapi, melalui gadget pun anak-anak mendapatkan banyak hal-hal yang merusak Adab/akhlaknya. Salah satunya adalah dengan menirukan gerakan/goyangan yang mereka lihat di aplikasi tiktok kemudian mempublikasikannya. Menjadi masalah (merusak Adab/akhlak) ketika anak-anak atau seorang muslim memperagakan gerakan/goyangan tersebut kemudian mengunggah atau mempublikasikannya. Lebih miris lagi jika dengan melakukan hal demikian seorang muslim malah merasa bangga. Bahkan merasa berprestasi saat banyak follower, banyak yang menonton dan me like postingan tersebut. Padahal sejatinya semakin banyak yang menontonnya semakin banyak pula dosanya.

Sebagai seorang muslim tentu hal demikian bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan atau bahkan dianggap prestasi. Akan tetapi sebaliknya hal demikian adalah sesuatu yang harus disesali, ditinggalkan dan dijauhi oleh umat Muslim. Seyogyanya seorang muslim malu mempertontonkan auratnya di hadapan publik, yang bukan mahramnnya. Malu memperlihatkan gerakan tubuhnya yang memikat teman dunia mayanya. Malu mempertontonkan ekspresi tingkah imut ataupun centil kepada yang bukan mahramnya. Malu kepada sang khalik atas perbuatan tercela tersebut. Apalagi jika yang dipertontonkan itu tidak menutup aurat.

Tentu sangat penting bagi setiap umat muslim menanamkan rasa malu dalam dirinya. Islam sendiri menegaskan bahwa malu itu adalah akhlaknya seorang muslim. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu. (H.R. Ibnu Majah).

Seorang muslim yang tertanam rasa malu dalam dirinya, menunjukkan bahwa ia berusaha untuk menyempurnakan imannya. Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa malu adalah sebagian dari iman

اَلْـحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ

Malu adalah bagian dari iman. (H.R. Bukhari)

Seorang muslim yang memiliki sifat malu  untuk melakukan sesuatu yang dilarang Islam adalah indikasi bahwa ia memiliki iman yang bagus. Adapun seorang muslim yang tidak malu terhadap hal tersebut, maka perlu dipertanyakan keimanannya. Karena imannya belum mampu mencerminkan  Akhlakul Karimah (akhlak yang mulia).

Rasulullah pun pernah bersabda

إذا لم تستحي ، فاصنع ما شئت. رواه البخاري .

Artinya: “Jika engkau tidak malu, perbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari).

Dalam Syarah Kitab Arba’in an-Nawai disebutkan bahwa makna hadis tersebut adalah jika seseorang tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sekehendakmu, dan Allah akan memberimu siksa yang pedih.

Melalui hadis ini, Allah memberikan perintah kepada hambanya untuk memiliki rasa malu dan juga menunjukkan ancaman bagi yang melanggarnya.

Menjadi seorang muslim berarti siap berserah diri terhadap segala ketentuan yang ada dalam agama Islam, menerima apa yang telah Allah SWT tetapkan. Sebagaimana arti Islam itu sendiri adalah “berserah diri kepada Allah SWT”. Baik sesuatu yg disukai ataupun tidak.

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menjadi muslim yang taat. Muslim yang menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Menggunakan aplikasi tiktok adalah bukan sesuatu yang salah ataupun tercela. Asalkan kita menggunakannya sebaik mungkin. Memanfaatkannya untuk kebaikan, bukan untuk menabung dosa.

Allahu a’lam.

__________