Kesepakatan Bersama Wujud Disiplin Positif dalam Kelas *)

Oleh : Teguh Mulyadi

Setiap guru pastinya mempunyai tantangan masing-masing dalam menghadapi murid-muridnya karena adanya keunikan individu pada setiap kelas. Pernahkan kita merasa bahwa tantangan untuk mengelola sebuah kelas seperti tiada akhir? Selain mengurus banyak hal dalam sebuah kelas mulai dari membuat rencana pengajaran, membawakan kegiatan, hingga mengevaluasi kelas, kita juga harus bisa mengatur perilaku murid di dalam kelas. Sebagai seorang guru pastinya kita ingin memberikan yang terbaik kepada murid-murid kita.

Saya pribadi percaya bahwa hal tersebut dapat dilakukan dengan melaksanakan pengajaran yang menggunakan aturan, prosedur, dan rutinitas untuk meyakinkan bahwa semua murid bisa terlibat aktif dalam setiap pembelajaran yang mereka lakukan. Sebuah prosedur ataupun rutinitas dalam kelas pastinya berdasarkan pada aturan yang telah dibuat. Bagaimanakah kita membuat aturan dalam kelas? Saya membuatnya dengan menggunakan Kesepakatan Bersama.

Kesepakatan bersama adalah kesepakatan yang dibuat bersama-sama oleh semua anggota kelas. Kesepakatan ini adalah hasil diskusi di dalam kelas yang biasanya dilakukan di awal tahun atau di awal kegiatan. Bagaimana cara membuat kesepakatan bersama? Biasanya saya memulainya dengan menentukan objektif atau tujuan belajar individu. Pada setiap awal tahun ajaran biasanya setiap murid ditanyakan apa objektif yang akan mereka capai di tahun ini. Objektif ini bisa berhubungan dalam pelajaran misalnya “Bisa lebih antusias belajar Dirosah Islamiyah” ataupun yang lebih spesifik seperti “Bisa membuat Podcast Materi Diorsah Islamiyah”.

Objektif juga bisa berhubungan dengan sikap atau kemampuan, seperti “Bisa aktif saat berdiskusi” atau “Bisa bekerjasama dan berkolaborasi dengan teman sekelas”. Guru pun bisa membantu mengarahkan murid dalam mengeluarkan ide-ide untuk objektifnya dengan mengeluarkan pertanyaan pancingan seperti, “Menurut kamu apakah di kelas tahun lalu kamu sudah melakukan usaha yang terbaik?” atau, “Kira-kira apa yang ingin kamu perbaiki di tahun ajaran ini?”. Objektif itu kemudian ditulis ataupun digambar dan ditempel di kelas, sehingga murid bisa melihatnya setiap waktu.

Setelah objektif individu tersebut dibuat, kemudian kita bisa berdiskusi lebih lanjut untuk menemukan tujuan bersama dan atau hal yang dibutuhkan untuk dapat mencapai tujuan tersebut, seperti “Bisa bekerja sama dalam kelompok” dan “Saling menghargai antar teman”. Kemudian kesepakatan kelas tersebut juga bisa dituliskan dalam bentuk poster dan ditempel di ruangan kelas. Agar lebih mantap, sebelum ditempel, kesepakatan tertulis tersebut bisa ditandatangani terlebih dahulu oleh semua anggota kelas.

Dalam prosesnya, selalu tidak mudah untuk bisa menerapkan kesepakatan ini di sepanjang tahun. Namun ada saja waktu di mana kelas membutuhkan intervensi yang kuat dari saya, seperti saat sebuah kesepakatan dilanggar. Pada saat seperti itu saya mengajak murid tersebut untuk berbicara empat mata dan menggunakan teknik refleksi untuk mengingatkan kembali tentang objektif yang pernah mereka buat dengan mengajukan pertanyaan seperti, “Kira-kira apakah tindakanmu tadi akan mendukung kamu meraih objektifmu?”. Bisa juga dengan menanyakan kepada murid apakah tindakan mereka sesuai dengan kesepakatan bersama seperti, “Apakah tindakanmu tadi menunjukkan kesepakatan kelas kita yaitu menghargai orang jika sedang berbicara?” “Kira-kira itu membuat nyaman temanmu tidak?” “Apa yang kamu rasakan apabila kamu tidak dihargai?” dan sebagainya.

Semua aturan dibuat untuk menjaga perilaku positif dan konsistensi dalam implementasinya sangat penting untuk mengelola kelas secara efektif. Agar kesepakatan bersama dapat diimplementasikan secara efektif saya juga biasanya menjadi role model di dalam kelas. Saya juga suka berbagi cerita tentang perasaan saya saat kesepakatan bersama dilanggar dan juga mengapresiasi murid yang sudah bisa menepati kesepakatan tersebut dengan pujian yang positif seperti “Terima kasih ya sudah menghargai pendapat teman, karena kamu bisa melakukan itu semua orang di kelompok kamu bisa memberikan kontribusinya.”

Dalam pengalaman saya selama pembuatan dan penerapan kesepakatan kelas ini tidak ada hal yang instan yang bisa terjadi. Semua proses membutuhkan waktu, kesabaran, dan kejernihan dalam berpikir. Di dalam aktivitas kelas tidak jarang murid melupakan tentang tujuan mereka saat pembelajaran. Saya pun sebagai guru terkadang melupakan bahwa murid juga memiliki pencapaian tertentu. Terkadang di dalam kelas saya dan murid saya lupa bahwa peraturan di dalam kelas membantu semua orang untuk belajar. Jika hal ini terjadi saya memberikan waktu kepada kelas untuk berdiskusi dan berefleksi meski di tengah berlangsungnya pengajaran. Hal ini penting untuk memberi kesempatan memfokuskan kembali tujuan kesepakatan kelas.

Akhirnya, meski tidak mudah, melalui penerapan kesepakatan kelas ini murid-murid saya perlahan tapi pasti menyadari bahwa setia “aturan” dibuat untuk kebaikan bersama. Bahwa menaati kesepakatan untuk menjadi diri yang lebih baik membutuhkan waktu yang panjang sehingga memerlukan konsistensi. Dan tentunya dampak yang paling baik adalah, selain setiap murid dapat mulai berperilaku positif dengan penuh kesadaran, mereka juga menyadari bahwa peran guru di dalam kelas bukan sebagai pengawas aturan yang menakutkan, tapi sebagai pengayom yang siap mengingatkan mereka untuk selalu konsisten mencapai tujuan untuk menjadi diri yang lebih baik di setiap waktu.

__________

*) Disarikan dari Surat Kabar Guru pada Kolom “Memanusiakan Murid, Menumbuhkan Disiplin” oleh Teguh Mulyadi