Kolaborasi dalam Keragaman Minat Bakat Santri

Oleh Riyan Nuryana Yusuf (Pengajar Rumpun Sosial)

Pendidikan merupakan suatu upaya memanusiakan manusia dengan cara manusiawi agar menjadi manusia yang seutuhnya. Makna memanusiakan manusia tersebut merujuk pada sebuah upaya untuk menumbuhkembangkan nilai dan potensi yang sepatutnya dimiliki oleh seorang manusia. Maka dari itu, sejak lahir manusia akan diajarkan bagaimana cara mengenal lingkungan sekitar, memahami fenomena sosial, memhami cara bersikap dan lain sebagainya dalam sebuah proses yang dinamakan dengan proses “belajar”.

Belajar merupakan sebuah aktivitas yang sering dianggap formal dalam hal pengaplikasiannya. Hal itu sangat wajar karena masih banyak orang yang memandang secara sempit makna dari konsep belajar. Mereka biasanya hanya mengaitkan konsep belajar dengan sebuah tempat yang dinamakan dengan sekolah. Memang sekolah merupakan sebuah tempat untuk belajar, namun belajar pada dasarnya bisa kita lakukan di mana pun dan dari siapapun. Karena proses belajar cakupannya sangatlah luas tidak terbatas oleh dimensi ruang maupun waktu.

Akan tetapi perlu kita garis bawahi, bahwasannya pada saat ini sekolah merupakan tempat primer dalam pelaksanaan fungsi sosialisasi atau pewarisan nilai dalam masyarakat. Hal tersebut terjadi karena semakin kompleksnya tuntutan atau tantangan global, di mana pendidikan dalam lembaga keluaraga bagi seorang individu tidaklah cukup. Maka dari itu, diperlukan pendidikan lanjutan yang bisa menjawab dan mempersiapkan individu supaya bisa bersaing dan berbicara di kancah global.

Pertanyaan yang muncul adalah pendidikan lanjutan seperti apa yang mampu menjawab tantangan global tersebut? Berkaitan dengan hal tersebut, sekolah formal dirasa belum cukup untuk menjawab tantangan tersebut. Karena kerigidan atau kekakuan dari sistem pendidikan formal itu sendiri yang setidaknya membatasi peluang atau potensi yang dimiliki oleh siswa. Pembatasan peluang tersebut terjadi oleh fokus pembelajaran yang lebih mengutamakan pada aspek pengetahuan saja. Sehingga kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk menumbuhkembangkan tata cara bersikap dan keterampilan-keterampilan yang sebetulnya sangat berguna untuk menghadapi tantangan global, seperti keterampilan bekerja sama, keterampilan berkomunikasi, keterampilan berpikir kreatif, dan keterampilan berpikir kritis.

Berdasarkan hal itu, maka perlu adanya inovasi yang lebih komprehensif untuk menjawab tantangan global tersebut, dengan memberikan peluang lebih besar kepada peserta didik untuk menumbuhkembangkan potensi atau minat dan bakatnya. Karena perlu disadari bahwasannya setiap individu memiliki potensi atau bakat dan minat yang sangat beragam dan menjadi keunikan tersendiri bagi individu tersebut.

Sekolah harus mampu menyediakan berbagai peluang bagi peserta didik untuk menumbuhkembangkan potensi yang mereka miliki. Ini sebetulnya merupakan sebuah peluang bagi sekolah-sekolah  yang memiliki keluesan dalam pelaksanaan pembelajaran, seperti di sekolah berbasis pesantren atau boarding school. Biasanya dalam sekolah berbasis pesantren siswa atau santri tidak hanya diajarkan pengetahuan yang bersifat akademik saja, melainkan mereka juga mendapatkan banyak sekali peluang untuk mengembangkan potensinya baik dalam pelajaran umum maupun agamanya.

Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana cara sekolah berbasis pesantren dalam mengembang minat dan bakat para santri dan satriwatinya? Untuk menjawab hal tesebut, saya akan menceritakan salah satu sekolah berbasis pesantren yang memiliki fokus tidak hanya pada aspek pengetahuan saja, melainkan aspek afektif atau sikap dan aspek psikomotrik atau keterampilannya pun sangat diperhatikan, yaitu pondok pesantren putri ‘Aisyiyah Boarding School Bandung yang terdiri dari jenjang SMP dan SMA.

Dalam pelaksanaan pembelajaran di Pesantren ‘Aisyiyah Boarding School Bandung, santriwati diberikan kesempatan untuk memilih berbagai jenis kegiatan yang bisa memfasilitasi minat dan bakat santriwati, seperti tapak suci bagi yang memiliki bakat dalam ilmu bela diri, daurah tahfidz bagi yang memiliki minat untuk para penghafal Alquran, ada juga program bahasa, yaitu pelatihan dan pengaplikasian bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari, yaitu bahasa arab dan bahasa inggris, serta banyak lagi kegiatan yang sepenuhnya ditujukan untuk memfasilitasi pengembangan minat dan bakat santriwati. Hal tersebut juga didukung oleh kolaborasi antara tenaga pendidik, yaitu guru dan pembina sehingga terjalin sinergis antara pendidik dan peserta didik dalam pelaksanaan pemenuhan kebutuhan belajar santriwati.

Pertanyaan terakhir yang muncul, apa manfaat atau kelebihan belajar di sekolah berbasis pesantren dibandingkan di sekolah biasa?  Manfaat yang bisa kita ambil ketika belajar di sekolah berbasis pesantren tentunya ilmu yang kita dapatkan tidak hanya bekal di dunia saja, akan tetapi kita juga akan mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat bagi kehidupan di akhirat yang kekal. Serta dengan keluesan dan kefleksibelan yang dimiliki tentunya potensi atau bakat dan minat yang dimiliki oleh siswa bisa jauh lebih tumbuh dan berkembang sebagai modal sosial dalam menghadapi tantangan global.

Ke depan tantangan akan jauh lebih besar, akan tetapi itu bukan sebuah alasan bagi kita untuk menyerah pada keadaan. Akan selalu ada pilihan dalam setiap kehidupan dan orang yang beruntunglah yang akan mendapatkan jalan kebenaran. Karena manusia seutuhnya dia akan tahu untuk apa dia diciptakan dan ke mana dia akan dikembalikan.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *