Merapah Nusantara (bag.1)

Jauh sebelum negara kesatuan Republik Indonesia diproklamasikan, Nusantara telah menjadi kawasan yang ramai dan memiliki peradaban seperti halnya peradaban di belahan dunia lainnya. Nusantara yang berarti Nusa antara atau wilayah dengan kepulauan telah membuka interaksi yang luas antar peradaban seperti dengan peradaban Cina, Arab, India hingga Eropa. Masing-masing peradaban dengan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologinya turut serta mewarnai peradaban Nusantara, maka tak heran bila di Nusantara telah terjadi akulturasi antar budaya.

Selain terjadi akulturasi, Nusantara pun dianugerahi berbagai sumber daya alam yang melimpah.  Motif Ekonomi menjadi dasar setiap peradaban berinteraksi, begitupula dengan Nusantara dengan sumber daya alamnya. Aktivitas Ekonomi perdagangan berbagai komoditi menjadi denyut nadi Nusantara, berbagai bangsa masuk dan bertransaksi menjadikan Nusantara semakin dikenal di Mancanegara.

Peradaban yang ada di Nusantara ditandai dengan berdirinya berbagai kerajaan, kerajaan bercorak Hindu dan Budha ditengarai sebagai awal mula peradaban Nusantara. Hingga masuk pada masa peralihan munculnya kerajaan-kerajaan bercorak Islam. Meskipun masing-masing memiliki dasar kepercayaan yang berbeda, sesungguhnya masing-masing pemeluk agama ini tidak pernah ada perselisihan, mereka dapat hidup berdampingan damai dan menjalin relasi khususnya dalam bidang perdagangan.

Islam dan Nusantara

Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia pada saat ini telah hadir sejak abad ke 7 menurut teori Mekkah. Seiring dan semakin luasnya dakwah para ulama Islam melalui jalur-jalur saudagar maritim, tibalah pula Islam di Nusantara. Islam dengan pendekatan damai dapat diterima di Nusantara bahkan saling memajukan sektor perniagaan antar kawasan, jalur perdagangan maritim inilah pintu gerbang interaksi Islam dengan Nusantara.

Selain melalui mekkah, Islam pun masuk melalui jalur laut Cina, saat itu Islam telah pula hadir dan berkembang di Cina. Hubungan dagang Cina dengan Nusantara yang sudah berlangsung sejak lama turut pula disertai para ulama untuk berdakwah sampai jauh juga melalui jalur perdangan maritim. Saling keterhubungan inilah yang kemudian menjadikan peradaban di Nusantara mencapai titik kejayaannya. Majapahit melalui ekspedisi Mahapatih Gajah Mada mampu menguasai wilayah yang luas. Selain itu para pedagang Nusantara pun tidak pasif, mereka mampu melakukan perdagangan internasional.

Namun kejayaan itu tidaklah berlangung lama, seperti halnya jatuh dari tebing curam, perselisihan internal seperti perebutan kekuasaan menjadi momok. Banyak kerajaan yang akhirnya runtuh hingga kemudian terjadi masa peralihan dari kerajaan  bercorak Hindu Budha menjadi kerajaan Islam di Nusantara. Setiap kerajaan dibumbui cerita untuk saling menguasai baik wilayah, politik dan tentu saja sumber daya alam yang melimpah itu.

Disamping karakter yang saling berebut pengaruh dan wilayah antar kerajaan, Nusantara kedatangan ekspedisi Eropa. Tercatat yang paling awal adalah ekspedisi maritim Portugis diikuti Spanyol, Inggris dan Belanda. Ekspedisi Eropa ini datang dengan membawa misi 3G (Gold, Glory dan Gospel), untuk mewujudkan misi tersebut mereka memonopoli perdagangan untuk mendapatkan gold atau kekayaan, membawa serta kekuatan militer dengan didukung teknologi persenjataan yang unggul, juga para misionaris yang datang untuk menyebarkan agama. Dengan ketiga hal itu mereka mencoba menguasai Nusantara beserta sumber daya alamnya yang termahsyur yaitu rempah-rempah menggunakan berbagai cara termasuk cara-cara kekerasan. Cara-cara inilah yang dikemudian hari direspon dengan perlawanan dari kerajaan-kerajaan Nusantara, namun perlawanan ini belumlah bisa mengusir mereka. Setelah Portugis hengkang, datanglah Belanda, kemudian Inggris, kemudian Belanda lagi selama 350 tahun.

Perlawanan dari kerajaan Demak sebagai penerus kejayaan Majapahit dengan jejaring kerajaan Islam di Nusantara mampu mengusir Portugis dari Sunda Kalapa, meskipun harus hancur lebur di Malaka. Nusantara bagian timur pun tidak luput dari perlawanan, dimana sumber rempah-rempah bernilai tinggi ada disana. Portugis pergi datanglah Belanda, kekuatan kerajaan-kerajaan lokal tidak mampu menghadapi ekspedisi eropa ini. Hingga akhirnya Nusantara memasuki babak baru yaitu harus menghadapi Kolinialisme dan Imperialisme.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *