My School Is My Future

Sebuah Cerpen

Oleh : Hadina Nurfauziah Syamil

Sejak kakak ku sekolah di luar, tidak ada yang bisa memasak lagi di rumah. Aku memiliki trauma berat yang kualami dulu dengan kompor gas.

Hujan turun sudah dari dua jam yang lalu, dan belum reda juga hingga saat ini. Cuaca yang mendung menjadikan suasana begitu mencekam di tempat ini. Setelah menimang nimang akan pergi atau tidak, akhirnya pun aku keluar, menginjakkan kaki di tanah basah ini. Lima menit yang lalu, ibu menghubungiku dan menyuruhku untuk membelikan makanan. Ibu tidak sempat memasak yang akhirnya lauk dirumahpun harus beli. Sejak kakak ku sekolah diluar, tidak ada yang bisa memasak lagi di rumah. Aku memiliki trauma berat yang kualami dulu dengan kompor gas.  Hal itu menyebabkanku tidak bisa memasak. Sedangkan ayah, dia sudah meninggal satu tahun yang lalu. Dan karena hal itu juga lah ibu harus bekerja keras dari pagi hingga malam.

Hanya kakak ku lah yang aku harapkan, karena tentu saja ibu pasti sangat sibuk. Tapi saat ini, aku benar benar harus menanggung semuanya sendiri. Kakak ku sedang sekolah asrama, atau bisa dibilang pesantren. Dulu, aku lah yang sangat menentangnya untuk pergi. Karena itu juga pasti akan memberatkan ibu dengan biaya pesantren yang memang mahal. Kakak ku kuanggap keras kepala saat itu, dia tetap ingin pergi. Ibu mengizinka dan akhirnya dia pun pergi.

Aku marah padanya kala itu, tapi tak lama dia pun menasehati ku dan bilang bahwa “my school is my future. Sekolah adalah tunjangan masa depan. Tidak hanya berlaku bagiku tapi kau juga. Aku ingin membantu ibu, dan hanya cara ini yang bias aku lakukan. Dengan belajar dengan sungguh sungguh, aku pasti bisa membantu ibu. Aku janji, setelah aku sukses nanti, aku pasti akan kembali dan akan membawakan hadiah untuk kalian berdua.”  Aku percaya dan akhirnya aku pun tak marah lagi.

“ibu? Ibu kenapa? Ibu sakit?” ucapku, khawatir.

Sampai saat ini, dia belum kembali, dan aku selalu mendoakannya agar bisa sukses di masa depan seperti apa katanya. Aku bangga. Aku bangga memiliki kakak sepertinya. Namanya Lia, dia adalah seorang pekerja keras yang pantang menyerah dan tak pernah patah semangat. Setelah ayah pergi, ia lah orang yang selalu percaya bahwa keadaan akan tetap seperti dulu. Dialah yang percaya bahwa keluarga kita tak akan pernah hancur.

Setelah selesai membeli makanan untuk lauk di rumah, aku pun pulang. Keadaan berbeda. Dirumahku tiba tiba saja sudah ada ibu dan teman tamannya, Ibu menangis. Aku yang kaget melihatnya langsung menghampirinya, dan memeluknya. “ibu? Ibu kenapa? Ibu sakit?” ucapku, khawatir. Ibu yang melihatku datang, langsung balik memelukku erat. Belum sempat aku bertanya lagi, tiba tiba ada ambulan datang. Keluarlah dari sana  mayat sudah ditutupi oleh kain kafan. Melihat itu, tubuhku bergetar dan bertanya tanya, siapa mayat itu?

“ibu, itu siapa?” tanyaku, serak. Suaraku mulai hilang. Air mataku mulai jatuh. Keadaan saat ini membuat yakin firasatku saat ini. “itu siapa bu? Itu siapa?” ucapku mulai menangis. Tak bisa dipungkiri lagi, aku sangat khawatir. Fikiran ku saat ini mengatakan bahwa firasatku benar. Ibu menggenggam tanganku lalu mengusap lembut kepalaku. “itu Lia nak. Kakakmu, keluarga kita” ucap ibu, beriringan denagn air matanya yang terus menjatuhi  pipi. Pandangan ku kabur. Lemas sekali rasanya. Ternyata, firasatku memang benar.  Jasad itu adalah kakak ku.

“Lia mengidap penyakit jantung. Tapi dia tidak pernah bilang pada kita. Sudah stadium terakhir dan benar benar sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Donor jantung pun sudah tidak berguna. Jantungnya sudah benar benar rusak dan menular pada organ lain. Sabar ya nak, bukan akhir untuk kita dengan kehilangan Lia.” Ucap ibu, sambil memberikan sepucuk surat padaku. Aku menerimanya lalu membacanya,

Untuk adiku, Shila.

Hai, maaf karena tidak memberitahumu dari awal  tentang penyakitku ini. Aku tau pasti kau akan sangat marah kalau aku memberitahumu. Aku bukannya ingin membohongimu, aku hanya tidak mau kau dan ibu menjadi khawatir karena ini. Aku tak mau menambah beban kalian. Maaf juga karena tidak bisa memberika yang terbaik. Aku gagal menepati  janjiku. Aku tak bisa buat kalian bahagia seperti dulu lagi, bahkan aku menambah kesedihan kalian. Aku juga gagal akan janjiku untuk sukses. Tolong sampaikan pada ibu bahwa aku gagal membantunya.

Pesanku, janganlah patah semangat. Jangan terus bersedih dan bahagialah lagi. Bahagiakan ibu. Cerahkan masa depanmu dengannya. Tolong jagaibu baik baik. Janganlah kamu sekali kali menyakiti hatinya. Gantikan aku. Aku yakin, kau pasti akan sukses.Belajarlah sungguh sungguh. Seperti kataku dulu, “my school is my future” dan itu sekarang adalah milikmu. “your school  is your future”

“aku janji kak, tak akan mengecewakanmu. Dan aku, akan menggantikanmu”