PENALARAN MORAL SEORANG MUSLIM DALAM MASA PANDEMI (bag.2)

Individu dalam menghadapi suatu situasi yang memerlukan moral judgement (penilaian moral) dan moral behavior (sikap moral) akan terlebih dahulu melakukan penalaran moral. Sebagaimana pendapat Rest, 1979 (Budiyono, 2016) yang mengungkapkan bahwa penalaran moral adalah konsep dasar yang dimiliki oleh individu untuk menganalisa masalah sosial-moral dan menilai terlebih dahulu tindakan apa yang akan di lakukannya. Pendapat ini serupa dengan pendapat Kohlberg yang mengungkapkan bahwa penalaran moral adalah kemampuan dasar seseorang untuk dapat memutuskan masalah sosial moral dalam situasi kompleks dengan melakukan penilaian terlebih dahulu terhadap nilai dan sosial mengenai tindakan apa yang akan dilakukannya. Selain itu, menurut Duska & Whelan, 1975 (Budiyono, 2016) penalaran moral inilah yang menjadi indikator dari tingkatan/tahap kematangan moral. Memperhatikan penalaran mengapa suatu tindakan salah, akan lebih memberi penjelasan dari pada memperhatikan perilaku seseorang atau bahkan mendengar pernyataan bahwa sesuatu itu salah.

Penalaran moral dipandang sebagai suatu struktur, bukan isi. Apabila penalaran moral dipandang sebagai isi, maka sesuatu dikatakan baik atau buruk akan sangat tergantung pada lingkungan sosial budaya tersebut. Sehingga sifatnya sangat relatif. Tetapi jika penalaran moral dilihat sebagai struktur, maka apa yang baik dan buruk terlihat dari prinsip filosofis moralitas sehingga penalaran moral bersifat universal. Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap (Widiarti, 2003).

Individu dewasa menurut Hurlock, 1996 (Putri, 2019) dimulai pada usia 18 tahun. Dari tinjauan usia, orang dewasa seharusnya telah mencapai tahapan perkembangan moral tertinggi menurut teori perkembangan moral Kohlberg. Pada teori Kohlberg disebutkan bahwa Level perkembangan moral tertinggi terjadi di usia 13 tahun ke atas (Nida, 2013). Level ini disebut sebagai Level Post Konvensional. Pada level tersebut terdapat dua tahapan yakni tahapan ke 5 (lima) dan ke 6 (enam) dari tahapan-tahapan perkembangan moral yang dikemukakan oleh Kohlberg. Tahapan kelima disebut sebagai Social Contract Legalistic Orientation. Bahwa yang dianggap bermoral adalah yang mampu merefleksikan hak-hak individu dan memenuhi ukuran-ukuran yang telah diuji secara kritis dan telah disepakati oleh masyarakat luas. Pada tahap ini, seseorang menyadari perbedaan individu dan pendapat. Sehingga tahap ini dianggap mampu terjadinya musyawarah mufakat. Benar dan salah dilihat sebagai hal yang berkaitan dengan nilai-nilai dan pendapat seseorang. Pada tahap ini hukum dan aturan juga dapat diubah jika hal tersebut dipandang baik bagi masyarakat. Sedangkan tahap ke-enam disebut sebagai Orientation of Universal Ethical Principles. Bahwa moral dipandang benar tidak harus dibatasi oleh hukum atau aturan dari kelompok sosial/masyarakat. Namun, hal tersebut lebih dibatasi oleh kesadaran manusia dengan dilandasi prinsip-prinsip etis. Prinsip-prinsip tersebut dianggap jauh lebih baik, lebih luas dan abstrak dan bisa mencakup prinsip-prinsip umum seperti keadilan, persamaan Hak Asasi Manusia, dan sebagainya (Budiyono, 2016).

Kohlberg sendiri berpendapat bahwa tidak ada satu-satunya jawaban yang benar terhadap suatu persoalan moral. Tetapi di dalamnya ada nilai yang penting sebagai dasar berpikir dan bertindak. Kriteria-kriteria yang dimaksud adalah kriteria yang mencakup kriteria diferensiasi dan integrasi “formal”. Di dalam tiap-tiap hal dan kewajiban menjadi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi (Budiyono, 2016). Sebagai contoh, pada tahap ke-lima perkembangan moral, orang memiliki hak-hak alami dan seharusnya masyarakat menghormatinya. Sementara itu, pada tahapan ke-enam, hak-hak yang dimiliki seseorang dengan sendirinya menciptakan kewajiban dalam berhubungan dengan orang lain. Sehingga, hak-hak dengan orang lain dan kewajiban menjadi “korelatif secara lengkap” dan menjadi “terintgrasi lebih baik” daripada tahap-tahap selanjutnya. Sebagai contoh nyata dalam situasipandemi saat ini adalah ketika seseorang yang sedang melakukan isolasi mandiri memerlukan makanan untuk bertahan hidup, ia memiliki hak untuk mencarinya. Sehingga masyarakat perlu menghormati haknya tersebut. Namun dalam pelaksanaan haknya tersebut, orang itu juga perlu melakukan kewajibannya dalam berhubungan dengan orang lain, yakni mencuci tangannya, mengenakan masker, menjaga jarak, keluar rumah hanya untuk memenuhi kebutuhannya saja, bukan untuk hal lain. Atau ketika dibalik posisinya adalah masyarakat memiliki hak untuk merasa aman dari transmisi seseorang yang terinfeksi COVID-19, oleh sebab itu apabila ada tetangga yang terkena COVID-19 masyarakat dengan sendirinya juga berkewajiban untuk menyediakan pemenuhan hidup bagi tetangga tersebut.

Terlepas dari teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Barat tersebut, Agama Islam sendiri memiliki prinsip-prinsip moral yang bersifat universal yang tercantum dalam Al-qur’an, yang relevan dalam berbagai situasi sosial. Widiarti (2003) menjelaskan bahwa universalitas moral berarti semua kultur mempunyai konsep dasar moralitas yang sama, misalnya; cinta, hormat, kemerdekaan, dan  kekuasaan.

Contoh prinsip moral bernilai universal dari ayat yang tercantum dalam al-qur’an adalah Q.S. Ali Imran:134  “Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.

Memberi bantuan dan berbuat baik menurut masyarakat di Timur maupun Barat, Dalam perspektif agama maupun sekuler, hal tersebut bernilai baik merupakan sikap moral yang bernilai baik secara universal. Dalam situasi sosial di masa pandemi ini, ketika perekonomian Bangsa sedang lesu, prinsip moral yang terkandung dalam surat Ali-Imran : 134 tersebut sangat sesuai digunakan sebagai landasan dalam menunjukkan sikap moral seorang muslim di dalam masyarakat.

Contoh lain dari prinsip moral bernilai universal yang tercantum dalam Al-qur’an adalah bertindak disertai dengan latarbelakang keilmuan dan bertanggungjawab atas perbuatan diri sendiri. Hal ini terdapat dalam Q.S. Al-Isra’: 36 “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya”. Ayat tersebut merupakan prinsip moral yang bernilai universal, terkait dengan objektivitas dan tanggung jawab.

Pada masa pandemi ini, marak sekali hoaks mengenai COVID-19. Bahkan berita yang dimuat dalam www.kompas.com mengabarkan bahwa dalam masa 6 bulan pandemi, telah tersebar 1.016 hoaks yang tersebar dalam 1.912 platform. Dalam menghadapi situasi sosial tersebut, ayat Al-qur’an dalam surat Al-Isra’: 36 tersebut bisa dijadikan sebagai sumber pengetahuan (moral knowledge) dan prinsip moral guna melakukan penalaran moral dalam menghadapi situasi sosial seperti fenomena hoaks tentang COVID-19 yang masif.

_______________

Bag 1 , Bag 2, Bag 3