Best Practice: Program Munaqosah Amaliah Tadris

Oleh : Uci Tarmana, S. Pd

‘Aisyiyah Boarding School Bandung (ABS) memiliki visi dan misi pendidikan pesantren untuk membentuk kualitas peserta didik yang “Berilmu amaliah, beramal ilmiah”. Ilmu dan pengalaman yang didapat selama proses belajar di pesantren bermanfaat untuk dirinya, keluarga dan lingkungannya.

Selepas dari pesantren santri akan dikembalikan ke keluarganya, dan pada tahap ini santri menggunakan potensi yang telah didapatnya.  Dimana santri telah memiliki Adversity quotient, istilah yang diperkenalkan oleh Paul G. Stoltz  mengenai kecerdasan manusia dalam mengahadapi kesulitan dan rintangan. Agar mampu menghadapi dan menyelesaikan permasalahan hidupnya, terutama dalam aktivitas beragama, juga  beradaptasi dengan lingkungannya, beradaptasi dengan perubahan dan perkembangan zaman di mana pun dia berada. Sehingga mampu berintegrasi, berdedikasi, memiliki semangat sebagai mubaligah pembaharu (tajdid) dan berkemajuan.

Kami merancang program pengabdian masyarakat atau disebut Amaliah Tadris sebagai penggenap proses belajar santri di pesantren ABS.   Amaliah Tadris satu paket dengan program Munaqosah dan wajib diikuti oleh santriwati tingkat akhir sebagai salah satu syarat kelulusan. Bentuk kegiatannya berupa praktek mengajar di TPA/ MDA, kegiatan sosial dll.

Banyak sekali tantangan yang harus kami hadapi agar santriwati berani tampil dengan percaya diri dan menyelesaikan tugas yang diberikan secara tuntas. Beberapa hal yang sering diungkapkan santri dalam mengikuti kegiatan ini adalah :

  1. Santri kurang percaya diri disaat akan praktek mengajar TPA/ MDA
  2. Santri merasa kesulitan dengan bahan ajar materi TPA/ MDA
  3. Santri kurang memiliki kemampuan menguasai di beberapa materi seperti materi tajwid
  4. Santri merasa kesulitan dengan cara mengajar anak anak ngaji di TPA/ MDA.
  5. dll

Untuk itu kami sebagai fasilitator program memberikan pembekalan terlebih dahulu kepada santri sebelum terjun melaksanakan praktek. Pembekalan yang diberikan meliputi materi bahan ajar, cara menggunakan materi bahan, cara mengatasi masalah di saat praktek mengajar di TPA/ MDA tersebut. Materi lainnya yang disampaikan sebagai pembekalan pada kegiatan munaqosah yaitu :

  • Tahsinul Qur’an, Khot dan Imla
  • Fiqih Ibadah
  • Kom Arab
  • Pemulasaraan jenazah dll
  • Menyusun bahan ajar dan membagi tugas disesuaikan dengan potensi santri masing-masing

Dari keseluruhan proses program ini banyak hal yang kami dapatkan sebagai pembelajaran dan menjadi bahan untuk mengembangkan program Amaliah Tadris ini semakin baik lagi. Secara keseluruhan program Munaqosah Amaliah Tadris dapat dirasakan kebermanfaatanya oleh santri, guru (asatidz) dan masyarakat sekitar. Dan terbukti meningkatkan kepercayaan diri santri, meningkatkan potensi santri,  mampu berkolaborasi dengan sesama teman dan pengurus lembaga tempat mengabdi. Santri mampu menyelesaikan tantangan pada dirinya sendiri, kemampuan berkomunikasi meningkat. Selain itu  lembaga TPA MDA tempat santri dititipkan banyak mengapresiasi positif kegiatan Amaliyah Tadris.

_______________________