REMAJA ATAU PEMUDA?

Oleh: Hilda Khairunnisa, S.Psi, M.Psi, Psikolog (Pendidikan)

Bagi pemerhati parenting, dan praktisi di bidang pendidikan tentu memiliki perhatian terhadap tahapan-tahapan perkembangan anak dan atau peserta didik. Oleh sebab itu, referensi mengenai tahapan-tahapan perkembangan anak dan atau peserta didik menjadi hal kerap dicari dan manjadi perhatian khusus. Kali ini, saya akan membagikan sedikit referensi mengenai salah satu tahapan perkembangan kehidupan, yaitu masa remaja. Referensi yang akan saya bagi ini berupa perbandingan perspektif perkembangan masa remaja yang dikemukakan oleh para ahli perkembangan Barat dan Islam. Karena tak dapat dipungkiri bahwa ilmu pengetahuan dunia saat ini berkiblat pada ilmu pegetahuan Barat. Sementara itu, kita sebagai umat Islam pun memiliki khazanah ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang salah satunya dalam bidang pendidikan dan perenting Islami. Tujuan penulis memaparkan kedua perspektif perkembangan masa remaja di sini, adalah sebagai sharing informasi sehingga kita selaku praktisi di bidang pendidikan dan juga pemerhati parenting memiliki sudut pandang yang beragam terkait perkembangan masa remaja.

a. Perkembangan Remaja Menurut Perspektif Barat

Di Amerika dan kebanyakan budaya lain sekarang ini, masa remaja dimulai kira-kira usia 10-13 tahun dan berakhir antara usia 18 sampai 22 tahun. Pada masa tersebut terjadi perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional yaitu perkembangan fungsi seksual, proses berpikir abstrak sampai pada kemandirian. Para ahli perkembangan juga menggambarkan remaja sebagai masa remaja awal dan akhir.

Perkembangan Fisik

Santrock (2003) menyebutkan bahwa terjadi sebagian besar perubahan pubertas pada masa remaja awal, kira-kira sama dengan masa SMP (Sekolah Menengah Pertama).

Perkembangan Kognitif

Berdasarkan teori perkembangan kognitif Piaget, Perkembangan kognitif pada usia 11 tahun-15 tahun merupakan tahap keempat dan terakhir. Dalam hal ini, berarti remaja bergerak melebihi dunia pengalaman yang aktual dan kongkrit menuju kemampuan berpikir lebih abstrak serta logis (Santrock, 2003).

Perkembangan Sosial

Pada masa remaja akhir (mulai 15 tahun) minat untuk berpacaran lebih besar dibandingkan pada masa remaja awal (10-15 tahun). Remaja juga mulai mencari dan mengembangkan identitas dirinya (Santrock, 2003). Oleh sebab itu, Erikson (Santrock, 2003) menyebutkan bahwa pengalaman romantis pada masa remaja memainkan peran penting dalam perkembangan identitas dan keakraban. Kencan di masa remaja juga dianggap mampu membantu individu dalam membentuk hubungan romantis selanjutnya dan bahkan pernikahan pada masa dewasa. Sementara itu sebuah survei yang dilakukan oleh Eager (Santrock, 2003) menyebutkan bahwa sebagian besar remaja di Amerika aktif secara seksual.

Perkembangan Karir

Minat remaja terhadap karir dan eksplorasi identitas dirinya menjadi lebih nyata pada masa remaja akhir (mulai usia 15 tahun). Kenniston menyebut masa muda untuk masa transisi antara remaja dan dewasa yang merupakan waktu ketergantungan ekonomi dan pribadi. Masa transisi tersebut sering berlangsung selama 2 hingga 8 tahun, meskipun kadang ada yang mencapai 1 dekade atau lebih. Para ahli perkembangan juga memaparkan bahwa pada akhir usia belasan atau awal 20an dan berlangsung sampai 30an merupakan waktu untuk membentuk kemandirian pribadi dan ekonomi.

b. Perkembangan Remaja Menurut Perspektif Islam

Islam memiliki pendapat tersendiri mengenai masa yang oleh ahli perkembangan di Barat disebut sebagai remaja. Apabila perspektif Barat menyebut terdapat fase peralihan antara perkembangan anak-anak menuju dewasa dengan sebutan remaja, di dalam Islam tidak terdapat fase peralihan antara anak-anak menuju dewasa. Di dalam Islam kehidupan manusia terdiri atas fase kanak-kanak, fase baligh/dewasa, dan fase tua. Sehingga dalam pandangan Islam, setelah kanak-kanak, individu langsung masuk pada fase baligh/dewasa.

Perkembangan Fisik

Sebagaimana pada teori perkembangan Barat yang mengemukakan karakteristik fase remaja, antara lain berdasarkan usia dan ciri-ciri perubahan fisik atau pubertas, Islam juga mengemukakan karakteristik masa baligh/dewasa. Individu pada masa baligh dalam Islam disebut dengan pemuda. Batas akhir dari usia pemuda hingga usia tua adalah mulai dari 15 tahun hingga kurang lebih 60 tahun. Pemuda merupakan individu yang telah baligh. Baligh merupakan bahasa Arab yang berarti “sampai”. Maksudnya baligh menunjukkan telah sampainya usia seseorang pada tahap kedewasaan. Para ulama menjelaskan bahwa seseorang mencapai kedewasaan apabila; (a) mengalami haidh bagi wanita dan mengalami mimpi basah bagi laki-laki, (b) tumbuh rambut kemaluan yang tebal, kasar, dan ikal, (c) mengeluarkan cairan mani, (d) mencapai umur 15 tahun (mengacu pada kalender Qamariyah) (Pratiti et al, 2020)

Perkembangan Kognitif

Perspektif Islam memandang fase baligh merupakan fase dimana individu dianggap telah mampu untuk berpikir abstrak, antara lain; mampu memahami konsep syariat-syariat Islam serta melakukan analisa dan evaluasi mengenai sikap dan perilakunya dan bertanggungjawab penuh terhadap konsekuensi dari sikap dan perilakunya sendiri (pemahaman sebab akibat). Individu yang telah baligh juga dianggap mampu melaksanakan amalan-amalan Islam secara menyeluruh. Pratiti et al (2020) menyebutkan bahwa ketika indvidu sudah baligh, ia memiliki kewajiban mengerjakan ibadah dan menauhidkan Allah. Ia juga bertanggungjawab terhadap amal perbuatannya sendiri beserta konsekuensi yang diperoleh dari perbuatannya tersebut.

Perkembangan Sosial

Perasaan suka terhadap lawan jenis pada individu yang telah baligh dalam Islam merupakan sesuatu yang wajar. Meskipun demikian, apabila di Barat kencan/pacaran dianggap sebagai sesuatu yang membantu individu dalam membentuk hubungan romantis selanjutnya dan bahkan pernikahan pada masa dewasa, namun hal ini berbeda dengan perspektif Islam mengenai individu yang telah baligh (yang telah memiliki karakteristik baligh atau berusia 15 tahun mengacu pada kalender Qamariyah). Pritati et al (2020) menyebutkan bahwa pada fase baligh, individu perlu memperhatikan adab bergaul terutama dengan lawan jenis dan yang bukan mahrom (semua orang yang haram untuk dinikahi). Interaksi individu baligh dengan lawan jenis seperti kencan atau pacaran merupakan hal yang dilarang. Sebaliknya, pernikahan diperbolehkan pada individu pada usia baligh, namun bagi individu pada usia baligh yang belum mampu untuk menikah, diperintahkan untuk menahan diri dengan beribadah dan menyibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat.

Perkembangan Karir

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang bagik bagi kamu” (QS. Ahzab:21). Oleh sebab itu, apabila mengacu pada sosok teladan dalam agama Islam, yakni Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wa sallam, maka perkembangan karir pemuda Islam berupa eksplorasi karir idealnya dimulai sejak usia 12 tahun. Pada usia 12 tahun, Nabi Muhammad telah ikut berdagang dengan pamannya ke Syam (Agustian, 2014). Usia tersebut masuk pada kategori remaja awal pada teori perkembangan Barat. Hal ini lebih awal bila dibandingkan dengan teori eksplorasi karir yang menurut ahli perkembangan Barat disebutkan terjadi pada usia 15 tahun. Perspektif Islam terhadap masa eksplorasi karir pemuda yang terjadi sebelum masa baligh tersebut berdampak pada tercapainya kemandirian ekonomi pemuda pada masa baligh tepatnya pada usia sekitar 25 tahun. Hal ini dikarenakan pada usia ini, Nabi Muhammad telah mencapai kejayaan karirnya sebagai investment manager yang handal (Bakhri, 2014). Sementara itu pada teori perkembangan Barat pada usia belasan akhir hingga 30 tahun merupakan masa pembentukan kemandirian ekonomi.

Simpulan dari perbedaan perspektif Barat dan Islam mengenai fase Remaja tersebut adalah; (a) terdapat perbedaan tahapan perkembangan pada perspektif Barata dan Islam. Barat memandang fase remaja sebagai fase peralihan dari fase kanak-kanak menuju fase dewasa, sementara itu Islam memandang tiada fase remaja, karena setelah fase kanak-kanak individu langsung masuk pada fase baligh/dewasa. (b) Barat dan Islam sama-sama memandang fase remaja dan baligh ditandai dengan karaktersitik perubahan fisik dalam hal ini adalah pubertas dan batasan usia. Adapun batasan usia remaja pada perspektif Barat dimulai pada usia sekitar 13 tahun dan usia baligh dalam perspektif Islam dimulai pada usia 15 tahun mengacu pada penanggalan kalender Qamariyah. (c) Terdapat perbedaan perspektif perkembangan sosial, khususnya pada relasi individu dengan lawan jenis di usia remaja dan baligh. Barat menganggap bahwa kencan/pacaran dianggap sebagai sesuatu yang membantu individu dalam membentuk hubungan romantis selanjutnya dan bahkan pernikahan pada masa dewasa, sementara Islam berpandangan bahwa kencan/pacaran merupakan hal yang dilarang, serta individu baligh yang belum sanggup untuk menikah diperintahkan untuk memperbanyak ibadah dan menyibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat. (d) Apabila Barat menyebutkan bahwa usia 15 merupakan masa meningkatnya minat dalam eksplorasi karir individu, namun dalam perspektif Islam, apabila mengacu pada teladan Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam, usia 12 merupakan masa dimulainya eksplorasi karir individu. Sementara itu, pada perspektif perkembangan karir Barat, kemandirian ekonomi dibentuk dari usia belasan akhir hingga usia 30 tahun, namun pada perpektif Islam, kemandirian ekonomi terjadi di usia sekitar 25 tahun.

Referensi:
Bakhri, M.S, (2014). Belajar dari Karir Bisnis Rasulullah SAW. bmtugtsidogiri.co.id
Pratiti et al, (2020). Handbook Pubertas Muslimah. Ahlan Pustaka Umat: Tangerang.
Santrock, J.W, (2003). Adolescence Perkembangan Remaja. Erlangga: Jakarta.
Agustian, W, (2014). Jejak Bisnis Rasulullah SAW, di Usia 12 Tahun Jeli Melihat Peluang Usaha. 2019. Okefinance