Sadar, Bijak, Bertindak

“..tapi hal lain yang lebih kita butuhkan daripada harapan adalah tindakan..”

Rumpun Sosial — penggalan kalimat dari Greta Thunberg di menit ke 10:15 pidatonya di panggung Ted talks yang bisa kita saksikan melalui youtube. Siapa Greta Thunberg?  Tiba-tiba saja pertanyaan ini muncul, awal mulanya saya menemukan Greta pada lini masa Instagram yang disebarkan salah satu kenalan saya. Teman saya itu memang sangat tekun dan peduli pada kegiatan-kegiatan lingkungan, saya pun pernah turut dalam kegiatan seperti itu sebelum focus pada pekerjaan.  Greta Thunberg adalah salah seorang remaja berusia 16 tahun yang menjadi pemantik masalah-masalah perubahan iklim. Aksinya mogok sekolah dan kemping di depan gedung Parlemen Swedia dengan papan tulisan “ Mogok demi iklim” sebagai bentuk kekecewaanya terhadap lambannya penanganan perubahan iklim. Inilah yang membuatnya jadi dikenal dan membuka mata dunia agar lebih serius dalam menangani perubahan iklim.

Perubahan iklim memang terus berlangsung, dan penyebab utamanya adalah kita “manusia” dengan berbagai kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Dampak dari perubahan iklim sudah bisa kita rasakan sendiri di Indonesia khususnya, seperti banjir di mana-mana, kekeringan, curah hujan disertai badai dan masih banyak lagi. Hingga peristiwa yang saling berkaitan itu menyebabkan bencana bagi kita “manusia” yang berada di sekitarnya. Tidak sedikit tercatat peristiwa bencana di Indonesia oleh BNPB dengan warga terdampak harus mengungsi. Semua sepakat bahwa semua ini disebabkan oleh perubahan lingkungan, dan sekali lagi penyebabnya adalah kita – manusia.

Apa tindakan kita? Dalam setiap doa yang kita panjatkan kepada Allah Swt, seringkali kita memohon keselamatan dan perlindungan dari marabahaya. Berharap tidak terjadi bencana yang bisa membuat kita dan orang lainnya tidak kesulitan. Namun sedikit dari kita yang melakukan suatu tindakan yang bisa mengurangi resiko dari bencana. Perubahan iklim disebabkan oleh semakin tingginya emisi yang kita produksi dan memengaruhi iklim bumi secara keseluruhan. Agar bumi tetap memiliki keseimbangan ekosistem, maka kita harus melakukan upaya seperti mengurangi produksi emisi juga membuka lahan-lahan hijau dalam rangka menjaga keseimbangan ekosistem.

KBBI : emisi/emi·si/ /émisi/ n 1 pancaran; 2 Fis pemancaran cahaya, panas, atau elektron dari suatu permukaan benda padat atau cair; pemancaran;

Secara umum emisi dapat dipahami sebagai zat, energy atau komponen yang dihasilkan oleh kegiatan yang berlebihan, sehingga menimbulkan terganggunya suatu system. Contohnya adalah Emisi Gas Buang Karbondioksida (CO2) hasil dari aktivitas manusia yang disinyalir menjadi penyebab pemanasan global. Pemanasan akibat emisi CO2 inilah yang menjadikan ekosistem bumi terganggu keseimbangannya, dan berdampak pada manusia. Entah akan seperti apa situasi masa depan dengan meningkatnya suhu bumi diperkirakan mencapai kenaikan 3,2 derajat Celcius pada akhir abad ke 21 menurut para ilmuwan peneliti dampak iklim.

Ada banyak hal yang bisa kita ihtiari agar suhu global tetap stabil, ekosistem bumi terus seimbang dengan hal-hal yang sederhana. Apa yang dilakukan Greta mungkin sangat luar biasa, dia mendesak Negara Swedia untuk membuat kebijakan-kebijakan yang dapat menjaga agar Emisi tidak terus meningkat. Termasuk Negara-negara yang berkontribusi pada naiknya tingkat emisi bumi, terutama Negara-negara industri dan maju.  Nah kita akan melakukan sesuatu untuk lingkungan terdekat kita seperti mulai mengurangi produksi sampah kemasan plastic harian kita. Mengapa plastic? Untuk memproduksi plastic diperlukan mesin-mesin dan bahan baku plastic diambil dari minyak bumi. Dari proses produksi plastic tentu saja menjadi penyumbang emisi Co2. Selain itu plastic menjadi bahan yang sulit terurai secara alami, timbulan sampah plastic telah berdampak pada kesuburuan tanah hingga membunuh hewan-hewan laut yang memakan sampah plastic.

Selain plastic, kita bisa mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan menggunakan transportasi public. Bahkan bila daerah kita beraktivitas tidak terlalu jauh, kita dapat berjalan kaki atau menggunakan sepeda untuk beraktivitas. Dibandingkan kendaraan bermotor, sepeda adalah alat transportasi paling ramah lingkungan. Selain itu bersepeda dan berjalan kaki akan membuat tubuh kita menjadi sehat, melatih kekuatan otot-otot kita sehingga menghindarkan dari cedera serta aliran darah menjadi lancer. Paru-paru kita akan menghisap lebih banyak oksigen segar dan bonusnya adalah sehat.

Oleh Karen itulah saya tergelitik untuk membuat tulisan ini, sebagai pengingat khususnya bagi diri sendiri agar semakin luas pemahaman dalam rangka mensyukuri nikmat dari Allah Swt dengan sikap lebih ramah terhadap lingkungan, bertanggungjawab secara social dan mengayomi sekitar seperti yang diajarkan oleh baginda Rasulullah Saw di berbagai bidang. Selain itu, agar kita memiliki karakter yang semakin bijak dan tidak mengedepankan sikap berlebihan dalam berbagai hal. Karena Allah telah memberikan fasilitas bagi kita, manusia, tugas kitalah yang harus menjaga semua itu agar terus berlanjut hingga generasi-generasi berikutnya.

 

____

Oleh : Adi Adei | Pengajar Rumpun Sosial

    1 Comment

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *