Shaum Ramadhan sebagai Penguat Iman

Ini artinya apa? Artinya, ada hubungan erat antara iman (“aamanuu”) dan taqwa (tattaquuna).

Dirosah — Iman merupakan urusan hati. Yang kondisinya cenderung kurang stabil, kadang-kadang bertambah (makin mendalam) atau bahkan berkurang (makin dangkal). Iman itu dapat naik, namun juga sangat mungkin untuk turun.

Dalam konteks bulan Ramadhan ini, apa yang daoat kita tangkap kalau dikaitkan dengan masalah iman yang cenderung naik dan turun? Dalam Al Qur’an ditegaskan shaum atau shiyaam dalam bulan Ramadhan fungsinya adalah Agar pelaku shiyaam tersebut “bertambah Taqwanya” kepada Allah Swt.

Dalam Al Qur’an (Al Baqarah [2] : 183), disana terdapat beberapa kata kunci yang perlu sekali dipahami sebaik-baiknya, yaitu kata kunci “aamanuu”, “kutiba”, “shiyaam”, “tattaquuna”, dan ditambah satu kata kunci lagi dalam ayat berikutnya (Al Baqarah [2] : 184), “ayyaaman ma’duudaatin”. Kata kunci “aamanuu” (mereka yang telah beriman) mengandung arti bahwa mereka kelompok orang yang telah terbuka menerima dan meyakini adanya (eksistensi) Allah Swt dengan segala atribut (apa saja yang dilekatkan) kepada Allah Swt, seperti sifat Esa-nya, Maha Kuasa-nya, Maha Pemurah-nya, Maha Pengasih-nya, Pemilik hari Kiamat, Pengangkat Rasul, dan sebagainya. Sekalipun demikian, orang-orang yang tergolong “aamanuu” tersebut masih perlu distabilkan ketakwaannya (la’allakum tattaquuna). Ini artinya apa? Artinya, ada hubungan erat antara iman (“aamanuu”) dan taqwa (tattaquuna). Tampaknya antara kedua hal itu. Iman dan taqwa tidak berhubungan kolerasional (hubungan timbal balik), melainkan lebih tampak hubungan linier (garis menuju satu titik), yaitu tinggi-rendahnya kualitas ketakwaannya (“tattaquuna”) sangat berpengaruh terhadap mendalam-dangkalnya iman (“aamanuu”). Sekarang persoalannya apa yang dimaksud dengan “Takwa” itu sendiri? Takwa mengandung arti ‘menjaga, menghindari, menjauhi’ atau menjaga diri dari, menghindari diri dari, atau menjauhi diri dari sesuatu. Bisa juga diartikan dengan lebih singkat, yaitu “takut”.[1]

Manusia perlu takut pada dua objek yang sama-sama akan mampu mengancam manusia, yaitu takut melawan hukum syaria’at yang berlaku dalam ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai penjelasnya. Kedua hukum tersebut adalah taat kepada Allah Swt.[2]

Takwa pada konteks ini, banyak ditentukan oleh berhasil atau tidaknya melaksanakan “shiyaam” yang semula berarti menahan atau mengendalikan, yaitu menahan diri dari mengendalikan diri dari sesuatu, makan dan minum (urusan perut dan urusan keduniaan), dan tuntutan kelamin (urusan seksual dan urusan kenikmatan). Jangan sampai terjadi hati (qalbun) orang beriman terkurung oleh tawaran liar dari makan-minum dan tuntutan kelamin tersebut.[3] Karena itu “shiyaam” perlu diwajibkan (kutiba), dalam arti dilatihkan secara terus-menerus selama satu bulan penuh (ayyaman ma’duudaatin) dalam bulan Ramadhan, bagi kaum mukmin yang telah baligh tanpa kecuali sampai akhir hayatnya.

Oleh karena itu proses pelaksanaan shaum/shiyaam perlu diperhatikan mulai dari ketulusan/keikhlasan niat, semangat melaksanakan, menambah amalan shahih, yang lain (sedekah, menjaga lisan dan tindakan, i’tikaf, mempelajari Al-Qur’an, dan dzikir sebagaimananya), juga lain-lainnya. Insya Allah dengan acara itu, shaum/shiyaam ramdhan mampu memperkuat dan memperkokoh iman kita.

[1] M. Quray Shihab, Tafsir Al-Qur’anul Al-Karim, 1997, hlm. 125, 127.
[2] M. Quray Shihab, Tafsir Al-Qur’anul Al-Karim, 1997, hlm. 126, 127.
[3] Ahmad  Musthafa Al Maraghi , Terjemah Tafsir Al Maraghi, Juz ke-2,  hlm. 130

 

_______

Oleh : Teguh Mulyadi | Pengajar Dirosah Islamiah

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *