Siapa yang Tahu Ibnu Hazm? *)

Oleh : Teguh Mulyadi

Ibnu Hazm menekankan pada status zakat sebagai suatu kewajiban dan juga menekankan peranan harta dalam upaya memberantas kemiskinan.

Ada yang kenal dengan Ibnu Hazm? Ibnu Hazm, diakui sebagai seorang ulama brilian yang memiliki kontribusi pemikiran luar biasa dalam dunia Islam. Membuktikan jati dirinya sebagai sumber literatur, ia diakui sebagai sosok ahli perbandingan agama, sejarawan, filolog, filsuf, sastrawan, qadhi (pakar fikih dan ushul fikih), mufassir, muhaddits, akademisi, dan politisi yang andal. Hal tersebut terjelma dari sekian banyak karya ilmiahnya di berbagai bidang tersebut, sehingga dikenal sebagai ilmuwan yang generalis dan produktif.

Beberapa ide gagasan kesejahteraan sosial Ibnu Hazm adalah kesejahteraan berbasis zakat. Ibnu Hazm menekankan pada status zakat sebagai suatu kewajiban dan juga menekankan peranan harta dalam upaya memberantas kemiskinan. Menurutnya, pemerintah sebagai pengumpul zakat dapat memberikan sanksi kepada orang yang enggan membayar zakat, sehingga orang mau mengeluarkannya, baik secara suka rela maupun terpaksa.

Adapun kewajiban mengeluarkan harta selain zakat, dipahami Ibnu Hazm, bahwa kewajiban harta selain zakat tersebut ada, selama zakat dan kas negara (bait al-mal) tidak cukup untuk menanggungnya. Jika mencukupi, kewajiban itu hilang dengan sendirinya. Selanjutnya, ada juga ‘Pemenuhan Kebutuhan Pokok’ (Basic Needs) dan ‘Pengentasan Kemiskinan’.

Ibnu Hazm, dalam masalah kesejahteraan ekonomi umat, secara konsisten berpegang kepada prinsip dasar dari kepemilikan, pengembangan, dan pemanfaatan hak-hak kekayaan individu dan sosial. Secara substansial, mencakup beberapa hal, antara lain melalui upaya pemerataan yang adil, peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat, dan jaminan hak-hak milik individu dan masyarakat umum. Sampai-sampai, soal makanan, minuman, pakaian dan tempat berlindung, menurutnya merupakan hal yang esensial standar dasar kehidupan umat manusia.

Ibnu Hazm mengingatkan bahwa kemiskinan selalu tumbuh dalam situasi ketika tingkat konsumsi atau kebutuhan lebih tinggi dari pada pendapatan untuk memenuhi kebutuhan. Hal ini terjadi akibat laju populasi yang meningkat cepat karena kelahiran dan migrasi. Kesenjangan yang lebar antara si kaya dengan si miskin dapat menambah kesulitan saat keadaan orang kaya memengaruhi struktur adminitrasi, cita rasa, dan berbagai pengaruh lainnya

Filantropi sesungguhnya adalah ibadah. Bagian dari ibadah maaliyyah ijtimaiyyah, yaitu ibadah di bidang harta yang memiliki posisi sosial yang sangat penting dan menentukan.

Filantropi yang ditawarkan oleh Ibnu Hazm adalah filantropi (kedermawanan), sebagai kesadaran untuk memberi dalam rangka mengatasi kesulitan dan meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat secara luas dalam berbagai bidang kehidupan. Potensi filantropi (Indeks Perilaku Dermawan 59% di Indonesia) umat Islam terwujud dalam beberapa bentuk. Dapat berupa zakat yang hukumya wajib, ataupun infak, shadaqah, dll.

Filantropi sesungguhnya adalah ibadah. Bagian dari ibadah maaliyyah ijtimaiyyah, yaitu ibadah di bidang harta yang memiliki posisi sosial yang sangat penting dan menentukan. Filantropi dalam Islam seharusnya dijadikan sebagai kebutuhan dan life style seorang muslim. Kekuatan dan kelemahan keimanan serta keislaman seseorang ditentukan oleh sikap kedermawanan dan kepedulian social.

Dalam Al-Qur’an ditegaskan di QS. At-Taubah: 71 “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana”. Hak-hak yang diperintahkan Allah Swt. untuk dipenuhi, Ibnu Hazm memahaminya sebagai suatu kewajiban. Hak-hak yang mesti dipenuhi tersebut tidak lain merupakan pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Hak-hak tersebut meliputi sandang, pangan, dan papan yang layak dan sesuai dengan harkat kemanusiaan.

Kesenjangan sosial dan ketimpangan sosial di masa pandemi COVID-19 sudah menjadi keniscayaan dalam kehidupan masyarakat sekarang. Kebutuhan manusia terhadap sandang, pangan, dan lainnya merupakan fitrah. Pemenuhan terhadap kebutuhan tersebut dalam Islam telah dijadikan sebuah keharusan. Bahkan, seseorang yang hanya berpangku tangan, tidak berbuat untuk dirinya dianggap zalim dan melanggar perintah Allah Swt. Karenanya, pemenuhan kesejahteraan sosial yang ditawarkan oleh Ibnu Hazm dalam konsep ekonomi Islam dapat dilangsungkan dengan memanfaatkan potensi filantropi Islam. Dengan gotong royong antarsesama umat, tujuan utama ekonomi Islam untuk mewujudkan kemaslahatan akan lebih mudah tercapai di era pandemi seperti ini. Wallahu a’lam.

__________