Belajar dari kisah H. Tatang Endan

Sebagai bakti yang tulus ikhlas dalam rangka menegakan dan mempertahankan Republik kita tercinta ini.

Aisyiyah Boarding School Bandung (ABS) kedatangan tamu istimewa, H. Tatang Endan salah satu purnawirwan TNI dari Siliwangi yang mengalami lansung bagaimana beratnya perjuangan revolusi Bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Usianya sudah menginjak hampir 90 tahun namun ingatannya masih kuat tentang bagaimana dirinya sudah mulai berjuang tergabung di Tentara Nasional Indonesia dengan berbagai tugas.

Sore yang hangat dimulai dengan cerita bagaimana Tentara Nasional Indonesia (TNI) divisi Siliwangi harus mengikuti perintah menarik mundur pasukan ke wilayah Republik Indonesia. Mengapa? Padahal Jawa Barat tempat Siliwangi berada merupakan wilayah Indonesia. Berdasarkan perundingan Renville, wilayah Indonesia yang diakui oleh Belanda sangat kecil. Kemudian seluruh kekuatan militer Indonesia harus keluar dari wilayah pendudukan Belanda dan mundur ke wilayah Republik. Maka dimulailah peristiwa epik yang dikenal dengan “Hijrah Pasukan Siliwangi”, mereka meninggalkan Jawa Barat menuju ibu kota Republik Indonesia saat itu di Yogyakarta.

Gambaran peristiwa perjuangan revolusi yang dialami oleh H. Tatang Endan merupakan satu dari kisah-kisah prajurit TNI, khususnya Siliwangi sebagai bakti yang tulus ikhlas dalam rangka menegakan dan mempertahankan Republik kita tercinta ini. Dengan memahami sejarah perjuangan, maka generasi muda Indonesia saat ini harus juga memiliki semangat yang sama untuk menjaga kedaulatan Tanah Air.

Oh beginilah nasibnya soldadu,

Diosol-osol dan diadu-adu

Tapi biar tidak apa, asal untuk negeri kita

Naik dan turun gunung, hijrahpun tak bingung

(Petikan Mars Siliwangi yang dinyanyikan Bapak H. Tatang Endan)

Belajar sejarah dari tokoh-tokoh yang mengalaminya sendiri tentu membangun suasana emosi yang berbeda dengan sekedar mendapat penjelasan dari guru sejarah yang mengandalkan buku paket belajar. Ada peristiwa-peristiwa yang tidak tertulis di buku membuat alur cerita semakin menarik dan mengalir. Dikemudian hari pembelajaran Sejarah khususnya, perlu melibatkan tokoh-tokoh yang semakin sulit ditemukan karena faktor usia seperti bapak H. Tatang Endan ini. Selain itu melibatkan siswa dengan lokasi-lokasi bersejarah, situs-situs hingga peninggalan sejarah di museum dengan suasana berbeda juga bisa dikembangkan.

Sejarah bukanlah ilmu menghapal masa lalu, namum sejarah adalah sebagai media belajar untuk membuat keputusan-keputusan penting di masa depan. Agar kita sebagai generasi muda bisa mengisi dan menjaga keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia dengan karya yang nyata.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *