Sekolahnya generasi Z dan Literasi Digital

Pasti banyak orang tua yang saat ini tengah memilih menimbang dan memutuskan sekolah apa yang akan menjadi tempat anak-anaknya belajar. Sekolah yang tentu saja sesuai dengan harapan tumbuh kembang anak agar memiliki kemampuan dan kecakapan untuk menjadi warga 4.0. Ini tentu saja menjadi tantangan tidak saja bagi orang tua namun juga lembaga pendidikan untuk terus berinovasi menggunakan cara-cara baru agar anak-anak yang belajar di sekolah tersebut dapat tumbuh dan berkembang untuk zamannya nanti.

Bertempat di Common room Aisyiyah Boarding School Bandung yang juga berfungsi sebagai perpustakaan, staf dan guru ABS berkumpul dan berdiskusi dengan pemantik Ustzh Nurul Fitri Anisa dan Ustdz Suryana Andri untuk tema “Memilih Sekolah untuk anak generasi Milenial (Zaman Now)” berdasarkan buku yang ditulis oleh Bukik dkk (Penggiat Pendidikan Indonesia). Selain itu pemantik berikutnya tentang Literasi Digital dibawakan oleh Mas Kelik Nur Prasetyo ketua Majelis Pustaka dan Informasi Muhammadiyah Jawa Barat.

Kegiatan dibuka dengan presentasi bedah buku dengan judul tersebut oleh kedua pemantik, kemudian dialog berlangsung dengan hangat. Terutama pertanyaan tentang bagaimana sekolah membuat program-program yang mampu menjawab perubahan yang tengah terjadi seiring dengan kemajuan tekonologi dan informasi. Tentu saja menggunakan metode lama dalam pembelajaran untuk menjawab persoalan masa kini dan masa depan tidaklah efektif.

Pada sesi kedua yang mengangkat literasi digital dipaparkan bagaimana sikap kita terutama terhadap anak-anak dalam menghadapi berbagai macam informasi melalui media sosial. Apa dampak baik dan dampak buruknya. Bagaimana media sosial dapat menjadi jembatan kita memperoleh informasi yang sehat sekaligus media kita membuka diri terhadap dunia. Ada beberapa tips mengenai hal ini, yang paling penting dari literasi digital adalah bagaimana informasi yang banyak itu tidak serta merta dikonsumsi. Bijak media sosial menjadi salah satu cara agar kita tidak terdampak negatif.

Kegiatan dengan menghadirkan para pemantik akan menjadi kegiatan rutin dengan konsep “Ruang Kolaborasi”. Yaitu menjadi ruang yang menghubungkan individu, komunitas dan organisasi yang memiliki keberagaman latar belakang melalui serangkaian aktifitas interaksi dan kolaborasi, berbagi pengalaman dan pertukaran pengetahuan.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *