Bandung Heurin Ku Tangtung

Rumpun Sosial — Guru bahasa Sunda saya di Sekolah Dasar, Pak Maman yang mengenalkan “paribasa Sunda” ini Bandung Heurin Ku Tangtung. Disebutkan “Nyaeta mangrupa sawangan kolot baheula yen Bandung bakal rame tur loba wangunan luhur” (Yaitu prediksi orang tua dahulu kalau Bandung akan semakin ramai dan berdiri bangunan tinggi). Ada satu lagi paribasa yang biasanya disenandungkan ketika mengasuh balita “Geura gede, geura jangkung, geura sakola di Bandung” (cepat besar, cepat tinggi, cepat sekolah di Bandung). Apa yang menjadi visi orang tua dahulu bukanlah isapan jempol belaka, memang beberapa tahun kemudian Bandung menjadi semakin berkembang. Sejarah pun mencatat bahwa di Bandung banyak berdiri sekolah-sekolah hingga perguuruan tinggi sejak zaman kolonial. Letak Bandung yang strategis ibarat gadis cantik yang menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Sehingga berbondong-bondong orang dari berbagai daerah ingin mengunjungi bandung dengan keperluannya masing-masing. Ada yang untuk mencari nafkah, melanjutkan pendidikan hingga sekedar berwisata.

Bandung selalu melebihi zamannya, di masa Kolonial Bandung dikenal sebagai Parij van Java saking eloknya tata kota Bandung seperti di Paris Prancis. Bisa jadi pada saat itu kota dengan nuansa Eropa salah satunya adalah Bandung, dimana berbagai teknologi terbaru di bidang seni rancang bangun ada di Bandung. Setelah Indonesia Merdeka, Bandung semakin berdenyut, setiap  generasi menerjemahkan Bandung sesuai dengan zamannya. Di tangan para Milenial, Bandung kini menjelma menjadi Teknopolis, modern dan bernuansa masa depan. Lagi-lagi Bandung melampaui zamannya.

Bagi generasi berikutnya, yang akan hidup di abad 21 menemukenali identitas keruangan dan lingkungannya adalah penting. Agar adanya kesinambungan semangat membangun masa depan lebih baik melalui inovasi dan ilmu pengetahuan. Selain itu generasi yang disebut sebagai generasi Alpha  berani mengambil peran-peran masa depan yang tentu akan berbeda dengan apa yang mereka hadapi saat ini. Santriwati Aisyiyah Boarding School rata-rata adalah generasi Alpha dimana teknologi, internet dan media sosial adalah menu sehari-hari. Mereka akan semakin dimudahkan memperoleh informasi, juga akses serta jejaring ke berbagai bidang semakin terbuka. Masih dalam rangkaian kegiatan Outing, santriwati dikenalkan dengan Planologi suatu kajian ilmiah mengenai rencana tata kota.

Bagaimana Planologi diterapkan? Untuk menjawab itu Santriwati diajak ke sebuah anjungan Galleri Perencanaan Kota Bandung atau dikenal dengan Bandung Planning Gallery. Ternyata membangun sebuah kota memerlukan konsep yang saling melengkapi karena menyangkut masyarakat yang hidup di dalamnya. Selain aspek Tehnik, aspek Sosial Ekonomi pun mencakup di dalamnya. Tidak bisa dipungkiri “siapa tahu” di masa yang akan datang ada santriwati yang menjadi Walikota atau Bupati, baik di Kota Bandung atau kembali ke daerahnya masing-masing dan mengambil peran dalam pembangunan berwawasan masa depan.

___

 

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *