Film Sebagai Media Belajar Menyenangkan dan Bermakna

Sebelum masuk ke kelas saya sudah mempersiapkan beragam cerita sejarah yang belum pernah dibahas bahkan di tulis di buku sejarah. Saya berharap cerita ini akan menarik digali dan dijadikan bahan diskusi. Setelah berdoa dan pembukaan saya memberikan sedikit pengantar, kemudian menggunakan media papan tulis untuk membuat mapping dari materi yang akan saya sampaikan. Belum lewat 15 menit beberapa anak sudah mulai mengantuk, ada yang pura-pura mencatat, dan lain-lainnya. Akhirnya saya hanya bisa bertahan 20 menit saja, membuat mapping, bercerita dan memberikan pertanyaan sebagai pemantik diskusi.

Selepas kelas, saya semi melamun atau mungkin antara melamun dan berfikir. Merefleksikan apa yang terjadi di ruang kelas tempat saya mengajar. Bahkan ada pertanyaan dari anak “Pak apakah materi ini bisa untuk UN?” saya tidak menjawabnya. Apakah belajar sekaku itu?

Sejak kecil saya menyukai film terutama film dengan latar belakang sejarah, pernah ada program menonton di bioskop dari sekolah itupun bertepatan dengan Hari Anak dimana gedung bioskop memberikan tiket gratis. Mungkin lebih ke hiburan saja. Saya bisa menceritakan ulang kisah Pertempuran Surabaya itu karena Film.  Dan hingga saat ini saya masih menikmati film sebagai sumber belajar saya, bahkan dengan adanya jaringan Internet biasanya selepas menonton saya mencari kebenaran cerita dari film yang sudah saya tonton.

siswa akan mudah memahami dan mengikat makna dari pesan yang disampaikan melalui bahasa audio visual.

Bagaimana film bisa menjadi media belajar? Memang tidak semua film cocok untuk dijadikan media belajar di kelas, karena kita harus menyesuaikan dengan usia penontonnya. Selain itu kita juga harus memperhatikan sinopsis film , apakah muatannya bergizi atau tidak. Seperti genre film horror yang hanya membuat kita takut hingga percaya pada tahayul. Atau film aksi yang tidak mengindahkan aspek rasional dan logika.

Film sebagai media belajar akan lebih efektif dan mudah dipahami siswa, karena film tidak hanya memengaruhi aspek rasional namun juga  dapat memengaruhi aspek emosi dan imajinasi. Selain itu siswa akan mudah memahami dan mengikat makna dari pesan yang disampaikan melalui bahasa audio visual.

Untuk itu sebelum menerapkannya di kelas, kita harus membuat panduan khusus yang disesuaikan dengan panduan kompetensi siswa hingga keterkaitannya dengan pembelajaran sehingga membantu siswa untuk memahami literasi film. Kecakapan literasi yang baik akan membatu kita mengembangkan kemampuan nalar. Nalar adalah modal kita untuk bisa berjejaring dengan bangsa lain secara sehat. Menstimulasi kreativitas dan masih banyak lagi manfaat dari berliterasi, salah satunya adalah literasi film.

Baca juga : Biopik Ahmad Dahlan Sang Pencerah 

 

__

Adi Adei | Rumpun Sosial

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *