AISYIYAH BOARDING SCHOOL BANDUNG

Aisyiyah sebagai organisasi perempuan berkemajuan yang didirikan pada  27 Rajab 1335 H/19 Mei 1917, berawal dari perkumpulan Wal ‘Ashri, Maghribi School, Sapa Tresna, Tahun 1914  yang dirintis oleh Nyai ahmad Dahlan berupa pengajian Al-Qur’an dan kelas baca-tulis khusus perempuan.

Oleh KH. Ahmad Dahlan pendiri Persyarikatan Muhammadiyah perempuan didorong untuk mendapatkan pendidikan baik formal dan keagamaan. Siti Walidah mengatakan “Perempuan juga memiliki hak untuk pintar” , dimana pada masa itu perempuan tidak mendapatkan tempat yang setara untuk menentukan masa depannya. “Aisyiyah yang anggotanya terdiri dari perempuan Muhammadiyah merupakan bagian dari sebuah cita-cita serta harapan untuk membangun harkat dan martabat kaum perempuan bagi peningkatan kualitas kehidupannya,” ujar Hajriyanto Y Tohari Ketua PP Muhammadiyah. Sejarah telah mencatat Aisyiyah sebagai pelopor terselenggaranya Kongres Perempuan Indonesia 22-25 Desember 1928, perwakilan Aisyiyah saat itu adalah Siti Munjiyah dan Siti Hayinah, Kongres ini kemudian ditetapkan menjadi hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember.

Aisyiyah berkiprah di berbagai aspek kehidupan masyarakat yang dinamis termasuk bidang pendidikan, mulai dari merintis berdirinya pendidikan untuk anak usia dini di Indonesia dengan nama Frobel School pada tahun 1919 yang saat ini bernama TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA), SD, SMP, SMA, hingga Universitas. Pendidikan ada­lah ujung tombak dak­wah Aisyiyah, karena  melalui pen­didikan dapat melahirkan kader penerus bangsa yang kelak menjadi pemimpin umat. Ketua PP Aisyiyah Prof. Masyitoh Chusnan mengatakan Pen­di­dikan membentuk karakter bangsa. Melalui pendidikan anak-anak yang akan memimpin di kemudian hari dibentuk. “Jadi sudah sangat jelas, pendidikan merupakan ujung tombak dak­wah Aisyiyah,” . Masyitoh menambahkan, terminologi berkemajuan seperti sudah menjadi trademark Muhammadiyah. Menurutnya, pe­rem­puan yang berkemajuan ada­lah mereka yang menyemaikan benih-benih kebenaran, kebai­kan, kedamaian, dan keadilan. Artinya menyemaikan benih-benih yang sifatnya positif. “Perempuan berkemajuan menurut hemat saya adalah perempuan yang punya pemikiran yang positif, punya visi jauh ke depan, sikap dan perilakunya bisa diteladani, berkualitas, itu perempuan berkemajuan,”menurutnya.

Pesantren Aisyiyah Boarding School Bandung, yang dikelola oleh Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Barat merupakan salah satu sekolah di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah dan Aisyiyah yang didirikan untuk menjawab dan mewujudkan cita-cita Aisyiyah. Menjadi lembaga pendidikan kader yang unggul dan berwawasan masa depan. ABS menyelenggarakan pendidikan menengah 6 tahun untuk jenjang SMP dan SMA.  Menerapkan pembelajaran model kontekstual, inovatif dan berorientasi pada tindakan untuk pembentukan karakter santriwati yang berkemajuan. Menyelaraskan dengan model pendidikan abad 21 dan melahirkan profil santriwati sebagai Mubalighah serta Insan Kamil Pembaharu di lingkungan ia berada.

Bermula dari 7 orang santriwati, dengan menggunakan satu bangunan seluas 300 m2 bertempat di Jalan Terusan Rancagoong 2 No. 5 pada Tahun 2013. Kini Aisyiyah Boarding School telah menambah bangunan untuk Masjid, fasilitas sekolah dan Asrama untuk jenjang SMP dan SMA. Di Tahun ke lima (2018) seiring dengan semakin meningkatnya kepercayaan baik dari Orang Tua Santriwati hingga para muwakif ABS tengah melaksanakan pembangunan di atas lahan seluas 20.000 m2 di Baleendah Kab. Bandung untuk menampung santrwati yang terus bertambah. Berada di Kota Bandung yang dikenal luas sebagai kota pendidikan dan kota kreatif skala global, Aisyiyah Boarding School Bandung menjadi bagian dari model pesantren Milenial berwawasan masa depan.