Belajar dari “Pamali”, Sebuah Bahasa Metafora dalam Mendidik Anak

Oleh: Hera Suroya Humayra, S.Ds

Pamali, dalam praktiknya juga disampaikan dalam bentuk majas metafora yang terkadang secara logika tidak memiliki hubungan sebab-akibat.

Istilah “pamali” barangkali jauh lebih populer di kalangan orang tua zaman “old” ketimbang di kalangan anak muda zaman “now”. Pamali sendiri dikenal sebagai kearifanlokalberupapantangan-pantangan yang disampaikan, diucapkan, diajarkan oleh orang tua pada zaman dahulu kepada anak-anaknya secara turun-temurun. Orang tua pada zaman dahulu menjadikan pamalisebagai cara mendidik anak-anak mereka supaya berlaku sesuai dengan kode etik yang berlaku di masyarakat pada masa itu.

Pamaliseringkali lebih dikaitkan dengan mitos, takhayul, atau khurafat. Padahal jika ditelaah lebih mendalam, pamali sebetulnya merupakan sebuah pendidikan nilai-nilai etis yang disampaikan secara verbal melalui bahasa metafora. Dalam Bahasa metafora, para penyimaknya diajak untuk merenungi makna sebenarnya dari ungkapan-ungkapan yang disampaikan dalam bentuk perbandingan analogis dalam bahasa majas ini.Pamali, dalam praktiknya juga disampaikan dalam bentuk majas metafora yang terkadang secara logika tidak memiliki hubungan sebab-akibat.

Contohnya, ada istilah pamali dalam budaya Sunda yang berbunyi, “parawan ulah diuk dina lawang panto, bisi nongtot jodo” yang artinya, “anak perawan tidak boleh duduk di ambang pintu, takutnya susah mendapatkan jodoh.” Secara langsung, memang tidak ada hubungannya antara anak perawan yang duduk di ambang pintu dengan jodoh. Namun jika direnungi lebih seksama, bahwa larangan kepada anak perawan untuk tidak duduk di ambang pintu lebih berkaitan kepada etika, bahwa tidak baik jika seseorang (bukan hanya anak perawan saja) duduk di ambang pintu. Ambang pintu adalah tempat orang berlalu-lalang, jika seseorang duduk di situ bisa menghalangi orang yang lewat, sehingga bisa dinilai tidak sopan. Soal pengaitannya dengan anak perawan dan jodoh, barangkali orang tua pada zaman dahulu menggunakan istilah tersebut sebagai peringatan keras karena tentunya apa yang ditakuti seorang anak perawan adalah tidak mendapatkan jodoh yang menyebabkannya menjadi perawan tua dan hal tersebut dinilai buruk dalam tradisi pada masa lalu.

Contoh lainnya, istilah pamali “tong ulin lamun genus sareupna, bisi diculik ku sandekala” yang artinya, “jangan bermain keluar jika sudah tiba waktu Maghrib kalau tidak mau diculik oleh setan”. Istilah pamali ini digunakan untuk menakut-nakuti anak kecil supaya tidak keluar bermain sewaktu Maghrib tiba karena waktu Maghrib adalah waktu sholat berjamaah, mengaji, berkumpul bersama keluarga, dan secara ilmiah pun udara di petang hari kurang baik bagi kesehatan terutama bagi anak kecil. Ada pula istilah, “tong petik sapetik-petikna” yang artinya “jangan sembarangan memetik dedaunan, bunga, buah-buahan, dsb.” dan biasanya disampaikan kepada anak kecil supaya tidak iseng merenggut dedaunanataubunga saat berjalan di dekat pepohonan. Bahasa larangan ini sebetulnya memiliki arti yang lebih mendalam yang mengajarkan supaya kita tidak memetik atau mengekploitasi kekayaan alam secara sembarangan.

ketika manusia sudah mulai memisahkan diri dari alam, tidak memperhatikan sungai, tidak menghayati pepohonan, mengabaikan tempat bermain anak-anak dan memisahkan mereka dari alam, memisahkan diri dari manusia sekitarnya, dan bahkan dari Tuhan, manusia jadi tidak akrab lagi dengan bahasa metafora, atau bahasa alam dengan pendekatan-pendekatannya.

Bisa kita rasakan, bagaimana bahasa-bahasa metafora tersebut terasa lebih indah dan sangat berkaitan erat dengan adab-adab dalam hubungan manusia dengan alam (hablumminalalam), hubungan manusia dengan sesama (hablumminannas), dan hubungan manusia dengan Tuhan (hablumminallah) jika dibandingkan dengan bahasa verbal zaman sekarang yang cenderung lebih blak-blakan, to the point, bahkan sompral dan juga lebih mementingkan kepentingan pribadi atau egois.

Mengapa bisa seperti itu? Menurut Tisna Sanjaya, pakar seni dan budaya yang juga merupakan dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, bahwa mungkin, ketika manusia sudah mulai memisahkan diri dari alam, tidak memperhatikan sungai, tidak menghayati pepohonan, mengabaikan tempat bermain anak-anak dan memisahkan mereka dari alam, memisahkan diri dari manusia sekitarnya, dan bahkan dari Tuhan, manusia jadi tidak akrab lagi dengan bahasa metafora, atau bahasa alam dengan pendekatan-pendekatannya. Manusia di zaman sekarang menjadi kurang kreatif dan kurang respekter hadap orang-orang di sekitarnya. Namun manusia di masa kini juga memiliki kelebihan dengan kayanya media komunikasi yang dimiliki seperti gawai yang beragam jenisnya, media sosial, dan hal-hal lain yang mewakili unsur-unsur kearifan urban yang tentunya tidak bisa dihindari akan terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Belajar dari pamali dengan bahasa metaforanya dan budaya respek terhadap sekitarnya, orang tua zaman now bisa belajar untuk mendidik anak-anaknya seperti yang diajarkan oleh orang tua zaman old. Bahwa mendidik anak itu haruslah dengan welasasih, bukan hanya melarang anak untuk melakukan sesuatu tanpa memberikan pemahaman sehingga anak kemudian melakukan kesalahan yang sama berulang kali. ustru kita harus mengajarkan kepada mereka supaya bisa berpikir dan merenungi makna di balik nilai-nilai yang kita ajarkan supaya nilai-nilai tersebut melekat kuat dalam diri mereka. Makna budaya pamali yang sebenarnya bukanlah untuk dipercayai dan ilakukan secara mentah-mentah, namun mengajarkan kita untuk mengungkapkan dan memahami sesuatu bukan hanya dari sudut pandang kita secara pribadi saja namun juga untuk merenungi hal-hal di sekitar kita karena ada adab-adab yang harus manusia lakukan untuk menjaga hubungan baiknya dengan alam, dengan sesama manusia dan juga dengan Allah SWT.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *