Guru dan Ilmu

Guru dan Ilmu

Ditulis oleh: Dede Kurniawan, S.Th.I

Diberitakan Andi Sri Rahayu (29) seorang guru honorer asal Desa Sapobonto, Kecamatan Bulukumpa, rela melalui jalanan berkelok demi mengajar di Madrasah Aliyah Guppi Kindang, Desa Kindang, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Tiap hari ia berjalan kaki 10 KM dari rumah untuk mengajar kesekolahnya dengan gaji 300 ribu/bulan. Ada juga Bua’dera (48) seorang guru honorer di Kota Samarinda, Kalimantan Timur selama 11 tahun jalan kaki saat berangkat ke sekolah. Sambil menenteng tas kecil dan kotak bekal, ibu satu anak ini berjalan kaki membelah kesunyian menuju SDN Filial 004 di Kampung Berambai, Kecamatan Samarinda Utara. Rumah Berta dan sekolah terpisah hutan lebat yang berjarak sekitar 5 kilometer. Kawasan ini sebagian besar masih hutan. Dua kisah guru diatas bisa jadi hanya segelintir kisah dan beribu-ribu kisah haru para guru pejuang pendidikan yang tidak terekam media masa bahkan  bisa lebih memprihatkan keadaannya, tapi mengapa mereka masih bertahan demi berbagi ilmu pada masyarakat yang membutuhkan.

Istilah Ilmu ketika diambil dari lafadz al-Quran diambil dari akar kata ‘alima, ya’lamu ‘ilman ; mengetahui  dan dalam bentuk timbangan lain ‘allama, yu’allimu ta’liman ; pengajaran

Mengapa kita memilih profesi  sebagai guru, tentu pertanyaan tersebut mesti kita analisa dengan seksama. Di antara salah satu fungi guru adalah mengajar dan jika kaitannya dengan fungsi mengajar tentu semua orang adalah pengajar atau guru dalam arti mengajarkan sesuatu. Baik  mengajari diri sendiri, mengajar anak sendiri bagi orang tua di rumah dan mengajar murid bagi para guru di lembaga pendidikan lainnya. Jika dihubungkan dengan istilah mendidik tentu bisa lebih menarik lagi. Mengajarkan ilmu pengetahuan salah satunya  adalah mengajar agar manusia bisa hidup dengan sisi kemanusiaannya secara utuh. Manusia dalam literatur agama Islam dibahas dalam berbagai Istilah dan salah satunya dengan padakan kata al-Insan. Al-Insan atau manusia jika belajar dengan benar dengan segal potensinya yang sebaik-baiknya akan mampu menempati sebagai makhluk yang paling mulia, bahkan bisa  melebihi mulianya malaikat dan sebaliknya  jika tidak belajar dari kesalahan bisa menempati posisi yang paling rendah di dunia ini dari berbagai makhluk lainnya.

Istilah Ilmu ketika diambil dari lafadz al-Quran diambil dari akar kata ‘alima, ya’lamu ‘ilman ; mengetahui  dan dalam bentuk timbangan lain ‘allama, yu’allimu ta’liman ; pengajaran dan dari kala ilm inilah pula salah satu sifat Allah disebut dengan kata al-‘aliim dalam shighat muballaghoh yang Maha mengetahui  dan Allah pula yang menjadikan manusia berilmu atau mengajarkan manusia menjadi mahkluk mulia (Qs.Al-Alaq 1-5]. Keberhasilan Nabi Yusuf membangun Negara dan mengentaskan wilayahnya dari  krisis pangan dan kemiskinan dimasanya juga karena Allah anugerahkan salah satunya Ilmu kepadanya, bahkan Ilmu akan mampu menjadikan orang-orang yang berilmu –‘ulama–  untuk takut, patuh pada Allah bukan sebaliknya lupa dan membangkang pada yang menciptakannya.

Belajarlah, karena ilmu adalah perhiasan, keutamaan, menjadi tanda ujian bagi para pemiliknya, jadilah seseorang yang mampu menimba manfaat setiap saat

Mengapa senang mengajar? Karena sebagaimana disebutkan di atas, Allah mempunyai sifat Maha Mengetahui atau ‘al-‘Aliim. Dialah yang menciptakan kita sekaligus mengajarkan Nabi Adam –manusia– al-Asma ; beragam ilmu pengetahuan. Ketika seseorang mengajar maka sudah barang tentu dirinya sudah mampu  membuktikan salah satu tugas kekholifahan manusia yang sangat berperan di dunia ini. Sehingga dalam dialog al-Quran dalam Q.s. al-Baqarah ayat 31  disebutkan yang menjadikan Adam sebagai makhluk yang mulia karena Allah telah mengajarkan Ilmu pengetahuan yang tidak diajarkan Allah pada Malaikat dan tidak pula pada Syaitan. Ketika seseorang menjadi guru dan mampu mengajar dengan benar maka ia sedang memanusiakan manusia, atau sedang memuliakan manusia sesuai fiitranya sebagai makhluk pembelajar. Imam  Az-Zarnuji mengutip sebauh sya’ir yang artinya “Belajarlah, karena ilmu adalah perhiasan, keutamaan, menjadi tanda ujian bagi para pemiliknya, jadilah seseorang yang mampu menimba manfaat setiap saat dengan selalu menambah ilmu yang bermanfaat dan berenanglah dalam lautan samudera kemanfaatan”

Mengapa kita mengajar? karena Rasulullaah SAW yang mempunyai follower milyaran di dunia ini juga sebagai panutan, idola dan uswah dunia akhirat umat Islam, beliaupun seorang pengajar. Beliau dengan bimbingan wahyu Allah mengajarkan al-Quran, mengajarkan ilmu pengetahuan jadi jika ditinjau dari salah satu aspek fungsi Nabi Muhammad SAW adalah sebagai guru juga Q.s. AL-Jumu’ah ayat 2, sehingga menjadi  guru atau mampu mengajarkan ilmu sama dengan meneladani sifat agung Rasulullah SAW yang mencerdaskan  kehidupan manusia.

Otak manusia adalah jaringan lunak yang beratnya sekitar 0,5 kilogram yang berisi sekitar 100 miliar sel yang tersusun sangat canggih.

Mengapa kta mengajar? Karena anak diri kita, anak kita, murid kita atau siapapun yang belajar kepada kita hakikatnya diberi potensi  susunan otak yang tumbuh dan berkembang dan sangat haus! untuk diisi  informasi sebanyak-banyaknya yang kemudian dicerna dan diproses menjadi pengetahuan baru. Pada dasarnya otak manusia tiap detik, menit dan jam, hari, minggu dan seterusnya memerlukan asupan informasi baru jadi mengajar itu sangat dahsyat arena dibutuhkan oleh para pembelajar itu sendiri yang diproses di dalam pikirannya. Disebutkan dalam sebuah riset otak manusia mampu memancarkan 60.000 energi berupa pikiran setiap harinya. Mengajar apa pun bisa dilakukan dan sedianya masa depan manusia  mirip layar besar sebuah proyektor. Otak manusia adalah jaringan lunak yang beratnya sekitar 0,5 kilogram yang  berisi sekitar 100 miliar sel yang tersusun sangat canggih. miliaran sel itu berfungsi kompleks sebagai pusat pengendaliaan seluruh aktivitas manusia..  Apa yang ada dalam pikiran manusia menjadi salah satu faktor  penentu nasib manusia.

Mengapa kita mengajar? Karena mengajar mengubah dunia. Tiap kali mengajar  berarti kita sedang menyiapkan, menata, dan membangun konsep-konsep baru dan seyogyanya sesuatu yang baru  apalagi dajarkan dengan gaya pembaharu akan membuat haru dan menarik  para pembelajar untuk terus menemu ilmu. Tiap kali mengajar sedang menyalurkan dan memancarkan spektrum pola  pikir baru yang terus bergerak dari satu parameter ke parameter lainnya dan tentunya tiap kali kita mengajarnya pada akhirnya akan membawa pada perubahan perilaku cepat atau lambat.

__________