Literasi

[gambar diambil dari :https://rahmadya.com]

 

Menyambut Industrial 4.0 Era, Santriwati Kuatkan Budaya Literasi

Oleh: Risnawaty Erz

Staf Pengajar ABS Bandung

Saat mendengar kata “literasi” yang ada dibenak adalah angka 60 dari 61 (hasil survey Programme for International Student Assessment). Indonesia. Susilo Toer pernah bilang bahwa Indonesia memiliki budaya mendengar (hearing) atau dengan kata lain dalam menyerap informasi masyarakat indonesia lebih suka metode mendengar. Hal itu juga yang membuat keluarga Toer terus-terusan mendapatkan perlakuan “dikucilkan” oleh masyarakat sekitar bahkan oleh Negara Indonesia, keinginan untuk membaca dan menggali lebih dalam sebuah informasi sangat minim untuk dapat dilakukan. Hal tersebut pula yang mungkin menjadi alasan kenapa peringkat Indonesia selalu berada di posisi bontot dalam urursan berliterasi.

Kembali lagi pada peringkat ke 60, dalam salahsatu artikel yang di muat oleh kompas secara serius meneliti keabsahan peringkat tersebut. Dilihat dari berbagai sudut pandang dan indikator, ternyata patokannya belum jelas di mna. Maka dari itu Indonesia tidaklah seburuk peringkat yang selama ini di soundingkan, bahkan dengan negera tetanggapun, karya tulis penulis indonesia cukup dikagumi dan diacungi jempol. Lantas bagaimana dengan generasi baru yang secara tidak langsung memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki atau mempertahankan kedua isu yang terlanjur sudah sampai pada telinga masyarakat.

Literasi dapat difahami sebagai kemampuan dalam membaca dan menulis. Penanaman literasi sedini mungkin harus disadari karena akan menjadi modal utama dalam mewujudkan generasi unggul, cerdas dan berbudaya. Penguasaannya menjadi indikator dalam merealisasikan kemampuan yang dimiliki untuk mencapai sebuah kesuksesan. Serangan era digital yang hari ini mengalir deras ke berbagai lini dapat memunculkan banyak kemungkinan, mulai dari kemungkinan baik sampai kemungkinan bahaya. Kemungkinan-kemungkinan tersebut harus dapat menjadi pagar pembatas sekaligus motivasi dalam berliterasi. Maka budaya literasi dapat menjadi ujung tombak dalam mengimbangi era digital.

Pada dasarnya, budaya menulis ataupun budaya membaca bukanlah sesuatu yang sulit apalagi hal yang mustahil selama dibarengi dengan fasilitas yang memadai. Dari sekian juta anak-anak Indonesia yang hari ini dikatakan tidak memiliki kegemaran dalam membaca apalagi menulis, banyak pihak yang bertanggung jawab atau fenomena tersebut. Bisajadi karena disekitarnya tidak mendapatkan fasilitas apapun, atau akses terhadap keduanya sangatlah sulit atau bahkan mengenalnyapun tidak. Maka dari itu, selain memacu minat dari anak itu sendiri lingkunganpun harus bersedia menyediakan dan mendorong agar terealisasinya budaya membaca dan menulis. Disadari atau tidak daya tarik membaca mempengaruhi minat menulis pada anak. Seperti sebuah poci teh, ia akan mengeluarkan apapun yang ada didalamnya jika sipemilik mengisinya. Begitu juga sebaliknya poci tidak akan mengeluarkan apapun jika sipemilik tak mengisinya dengan apapun. Kosong.

Dari sekian banyak pelajaran yang di siapkan untuk para santri, ada beberapa pelajaran yang dicoba untuk diarahkan ke program literasi. Salah satu contohnya adalah pelajaran bahasa Indonesia, ada beberapa tahap untuk mematangkan santriwati dalam berliterasi seperti melakukan seminar bersama para ahli, berlatih lebih banyak dan berkarya lebih banyak. Selain itu menantang anak untuk berani mengirimkan karya-karya mereka pada kancah yang lebih luas seperti ruang opini beberapa surat kabar atau beberapa ruang pada portal online yang lebih sederhana namun dekat dengan anak-anak. Tantangan berliterasi digital pada setiap goal pembelajaran terutama dalam pelajaran bahasa indonesia bertujuan untuk mentriger santriwati dalam mempraktikkan proses membaca dan menulis.

Minat dan bakat dalam menulis mulai hadir. Beberapa santriwati sudah tampak karakter tulisannya, mulai dari menulis cerita fiksi, nonfiksi, formal serta tulisan-tulisan lainnya yang menurut mereka menyenangkan. Berangkat dari satu kebiasaan semoga menjadi kebiasaan lain yang lebih besar dan bermanfaat sehingga dapat mewujudkan insan kamil pembaharu.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *