PEMBELAJARAN BEBASIS PROYEK STEM

PEMBELAJARAN BEBASIS PROYEK STEM
(SCIENCE, TECHNOLOGY, ENGINEERING AND MATH)

STEM merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan empat bidang yaitu sains, teknologi, engineering, dan matematika menjadi satu kesatuan yang holistik (Roberts, 2012; Bybee, 2013). Tujuan STEM dalam dunia pendidikan sejalan dengan tuntutan pendidikan abad 21, yaitu agar peserta didik memiliki literasi sains dan teknologi nampak dari membaca, menulis, mengamati, serta melakukan sains, serta mampu mengembangkan kompetensi yang telah dimilikinya untuk diterapkan dalam menghadapi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang terkait bidang ilmu STEM (Bybee, 2013; National STEM Education Center, 2014).

Pembelajaran sains yang sesuai dengan pendekatan STEM dapat dilakukan dengan model pembelajaran PjBL (Project Based Learning). Model pembelajaran PjBL menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks seperti memberi kebebasan pada siswa untuk bereksplorasi merencanakan aktivitas belajar, melaksanakan proyek secara  kolaboratif, dan pada akhirnya menghasilkan suatu hasil produk (Rais, 2010).

Pembelajaran yang diterapkan ialah melalui beberapa tahapan dengan menggunakan Engineering Design Process (EDP). Engineering design process (EDP) didefinisikan sebagai serangkaian langkah-langkah yang menggunakan teknik untuk membimbing mereka dalam memecahkan masalah (Tayal, 2013). Adapun siklus EDP ialah sebagai berikut:

Tahap I  ialah siswa diberikan problem untuk kemudian mengajukan problem solving statement berdasarkan masalah kekinian. Adapun masalah yang dangkat ialah berupa masalah yang ditimbulkan oleh bencana alam tsunami yang menimpa Palu. Jembatan yang semula menjadi icon kota palu telah luluh lantah akibat terjangan tsunami.

Ditempatkan sebagai pemberi ide (arsitektur), peserta didik diminta membantu melakukan pembangunan jembatan dengan modifikasi melalui pengembangan permasalahan baru, yakni jembatan ingin dapat dilalui kapal yang melintas dan memiliki tinggi yang melampaui jembatan, melalui problem tersebut siswa menuangkan dan mengembangkan ide kedalam bentuk purwarupa.

Sebelum memulai, siswa diapersepsi mengenai materi terkait. Yakni mengenai pengaruh tekanan baik pada fluida gas maupun fluida cair baik diruang tertutup maupun terbuka.

 

Siswa kemudian berdiskusi dan menentukan ide pokok kedalam sebuah lembar desain:

Tahap II ialah siswa menentukan alat dan bahan yang akan digunakan dengan mempertimbangkan desain, kekuatan bahan, serta estimasi biayanya. Setelah menentukan hal tersebut kemudian siswa melakukan realisasi dengan dan perakitan:

Tahapan III berupa tahapan uji coba. Siswa melakukan uji coba terhadap desain yang dirangkai.  Jika ujicoba menunjukkan sistem kerja yang sesuai, kemudian siswa melakukan improvisasi dan penambahan modifikasi, baik dari segi kekuatan konstruksi maupun segi estetika.

    1 Comment

  1. 26 February 2020
    Reply

    Nice…
    Alhamdulillah..
    Inspiring for learning

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *