Kunjungan santriwati SMA ABS yang mengikuti program Outing ke Kampung Adat Naga, merupakan agenda kegiatan Mata Pelajaran Sejarah yang berkolaborasi dengan Mata Pelajaran Geografi, Seni Budaya, Bahasa Sunda dan PKN. Bertujuan sebagai Observasi secara langsung sesuai kompetensi pembelajaran yang berlaku.

 

Selepas solat subuh santriwati bersiap-siap berangkat ke Kampung Naga yang terletak di Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Berangkat menggunakan Bus Sekolah menembus jalan raya Bandung Selatan dan melewati jalan Nagreg sebagai jalan provinsi untuk menuju lokasi tujuan.

 

Bus pun tiba di area parkir Kampung Adat Naga dan melakukan follow up kedatangan peserta Outing dari SMA ABS Bandung. Setelah melakukan follow up untuk pemandu/narasumber yang akan menemani selama kegiatan berlangsung, pembimbing secara bersama-sama melaksanakan briefing terlebih dahulu mengenai teknis pembelajaran/observasi yang akan di lakukan. Bapak Aji salah seorang pemangku kampung Adat Naga menjadi pemandu kunjungan ini.

Sehubungan dengan aktivitas pembelajaran santri/peserta didik harus sesuai dengan lembar kerja atau Juklak-Juknis, maka gambaran umum materi Outing selama kegiatan berlangsung adalah sebagai berikut :

Santri/Peserta didik akan berkeliling di Kampung Naga. Kampung ini berada di lembah yang subur, dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Ci Wulan (Kali Wulan) yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.

 

Kemudian peserta outing melihat bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu. Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk atau alang-alang, lantai rumah harus terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah harus menghadap ke utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang ke arah barat-timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh di cat, kecuali di kapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok, walaupun mampu membuat rumah tembok atau gedung (gedong).

 

Pemandu memperkenalkan penduduk Kampung Naga yang seluruhnya menganut agama Islam, namun sebagaimana masyarakat adat yang lainnya mereka juga taat memegang adat-istiadat dan kepercayaan nenek moyangnya agar warisan budaya leluhurnya tetap terjaga. bukti dari penduduk Kampung Adat Naga menganut agama Islam terdapat sebuah bangunan masjid ditengah-tengah kampung (Balè) yang berfungsi sebagai aktivitas masyarakat sembahyang sehari-hari.

Peserta Outing juga menyaksikan keseharian masyarakat Kampung Naga seperti bertani, menumbuk padi, berkebun dan beternak. Tidak ketinggalan setiap hari selasa, rabu dan sabtu selalu di gelar upacara menyepi, selain itu juga selalu menggelar upacara Hajat Sasih, Perkawinan dan Upacara Sawer jika ada salah satu penduduk yang sedang menggelar prosesi pernikahan.


Hasil sumber daya alam selanjutnya dalam bentuk kerajinan dan pekerjaan tangan khas Kampung Naga seperti alat musik berupa Teureubang, Gembrung, Teureubang Sijak, Angklung Barèng dan Karinding. Jika kebetulan pengunjung yang datang pada hari besar Islam akan di suguhkan pentas seni yang di mainkan oleh para seniman masyarakat Kampung Naga.


Sebagai informasi tambahan dari pemandu menjelaskan sedikit tentang kunjungan wisatawan asing yang kebanyakan para Arsitektur dari berbagai negara meneliti bangunan tradisional Kampung Naga. ***Isep Sopwan Yasiri

Leave a Comment