Jumlah pondok pesantren (Ponpes) di bawah naungan Muhammadiyah terus bertambah. Terbaru, ada 440 lebih ponpes yang tersebar di seluruh Indonesia dengan lebih dari 67 ribu santri. Bahkan angka tersebut terus bertambah dari hari ke hari. Pemerintah telah memberikan perhatian spesifik akan keberadaan pesantren, salah satunya melalui Undang-undang nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren. Dengan begitu, eksistensi ponpes yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu sudah diakui dan mendapatkan kepastian serta perlindungan hukum.

“Bertumbuhnya secara kuantitas pesantren Muhammadiyah mesti diiringi dengan peningkatan kualitas dalam berbagai aspek. Diantaranya Layanan Pengasuhan Pesantren. aspek ini dinilai menjadi sentral dalam penilaian eksistensi pesantren oleh para pengguna (user)/orangtua dan wali santri. Karena layanan pengasuhan akan sangat berdampak pada tumbuh kembang pada wilayah kognitif, afektif dan psikomotorik santri. Layanan pengasuhan berkualitas akan menjadi salah satu prasyarat menuju pesantren unggul dan berkemajuan.” pungkas Dr. H. Masykuri, M.Pd., pada sesi sambutannya.

Mengingat pentingnya hal tersebut, Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) PP Muhammadiyah secara continues menyelenggarakan Workshop Pengasuhan. Rangkaian kegiatan Workshop ini diikuti oleh para peserta perwakilan dari berbagai pesantren muhammadiyah dari Sabang sampai Merauke (se-Indonesia) yang dinilai sebagai pesantren percontohan dengan metode Focus Group Discussion pada setiap sesi rangkaian kegiatannya. Universitas Muhammadiyah Purwokerto menjadi tuan rumah penyelenggaraan Workshop Pengasuhan Jilid II pada tanggal 25 – 27 Agustus 2023, yang sebelumnya (Jilid I) terlaksana di Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya.

Workshop Jilid II ini fokus pada penyusunan berbagai Petunjuk Teknis atau Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam berbagai aktivitas layanan pengasuhan pesantren, seperti SOP Kebersihan dan Keindahan Pesantren, SOP Kunjungan Orangtua/Tamu dan Penjengukan Santri, SOP Perizinan, SOP Bimbingan dan Konseling, SOP Barang Bawaan dan Paket, SOP Ramah Anak, SOP Kesehatan, SOP Pembinaan Kebahasaan (Arab), SOP Penggunaan Gadget (HP & Laptop) dan SOP Pembinaan Tahfidz Qur’an. Selain berbagai SOP pada layanan pengasuhan, kegiatan tersebut juga mengagendakan penyusunan panduan pesantren agribisnis serta draft instrumen akreditasi pesantren Muhammadiyah.

Diantara berbagai pesantren yang mengikuti workshop tersebut adalah ‘Aisyiyah Boarding School Bandung (ABS). diwakili oleh Ust. Dede Kurniawan dan Ust. Teguh Mulyadi, mendapat kesempatan untuk sharing dan menyampaikan pola asuh yang diselenggarakan di ABS. ABS yang cukup dikenal dan menjadi percontohan pesantren pada aspek layanan pengasuhan terutama bidang bimbingan dan konseling pesantren. ABS juga cukup dikenal sebagai pesantren yang memiliki komitmen kuat pada program Pesantren Ramah Anak serta Lingkungan.

Keterlibatan ABS dalam mengutus perwakilannya pada kegiatan tersebut, semata-mata sebagai bagian dari komitmen kolaborasi dan kolaborAksi pesantren Muhammadiyah menuju pesantren yang Unggul dan Berkemajuan.

Leave a Comment