Kabupaten Bandung – ‘Aisyiyah Boarding School Bandung menggelar upacara Hari Pendidikan Nasional pada hari Kamis (02/05) di Lapangan Upacara ‘ABS Bandung. Acara tersebut dihadiri oleh manajemen, guru, pembina, dan santriwati SMP-SMA ‘ABS Bandung.
Perayaan Hardiknas tersebut diawali dengan pengibaran sang saka merah putih, pembacaan teks pancasila oleh pembina upacara, pembacaan UUD 1945, dan amanat pembina upacara.
Bertugas menjadi pembina upacara, guru Ekonomi SMA ‘ABS Bandung, Fitria Lestari Dewi, S.Pd. menyampaikan amanat mengenai pendidikan adalah investasi terbaik.
“Investasi yang menguntungkan saat ini adalah investasi diri kita. Maksudnya adalah menginvestasikan isi kepala kita dengan cara menambah wawasan, ilmu, pendidikan, pengalaman melalui berbagai kegiatan, baik kepanitiaan maupun peserta lomba, atau bisa juga dengan keterampilan-keterampilan yang kita miliki,” terangnya.
Lebih jauh, Fitria menganalogikan botol dan air sebagai konsep investasi yang bernilai dan berharga.
“Ibu membawa botol air mineral yang kira-kira harganya berapa? 3.000,-. Coba kalau air mineral diganti dengan air jus mangga, kira-kira harganya berapa? 10.000,-. Kita ganti lagi airnya oleh madu, berapa kira-kira harganya? Ada yang sampai 100.000,-, semakin naik ya harganya. Kita ganti lagi dengan air kotor, berapa harganya? Pasti tidak ada harganya. Apa maksud dari analogi botol ini? Jadi, botol ini sebagai diri kita dan airnya sebagai pikiran dan pengalaman kita. Kita bisa ganti dan bisa tambah dengan cara menuntut ilmu, menambah wawasan yang tidak hanya didapatkan di sekolah saja, di luar pun bisa. Jadi semakin bernilai botol dan isinya, maka semakin bernilai dan berharga diri kita,” jelasnya sambil memegang botol air mineral.
Melalui momen Hardiknas tersebut, Fitria juga menjelaskan perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam memperjuangkan pendidikan sehingga dapat dirasakan oleh semua orang tanpa memandang status ekonomi dan sosial.
“Belajar dari Ki Hajar Dewantara yang disebut sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Mengapa disebut Bapak Pendidikan Indonesia? Karena ia memperjuangkan pendidikan Indonesia. Pada zaman kolonial, hanya orang-orang kaya dan keturunan Belanda yang dapat merasakan pendidikan. Tapi apa yang kita rasakan sekarang? Semua orang dapat merasakan pendidikan. Nah, itu cita-cita beliau. Beliau ingin semua orang mendapatkan pendidikan yang layak, jadi tidak melihat latar belakang ekonomi dan sosial,” tegasnya dihadapan santriwati.
Menutup amanat, Fitria berpesan kepada seluruh peserta upacara untuk selalu bersyukur atas apa yang dimiliki saat ini.
“Terakhir, Ibu ingin mengingatkan kepada kita semua untuk selalu bersyukur atas apa yang sudah kita miliki. Karena di luar sana mungkin ada banyak orang yang tidak dapat merasakan pendidikan yang layak, ada yang harus mengarungi sungai, ada yang harus jalan kaki beberapa kilometer. Maka, jadikanlah pendidikan ini sebagai investasi diri dan sebagai jalan untuk mencapai cita-cita maupun impian kalian masing-masing. Teruslah belajar dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat,” pungkasnya.
