‘Aisyiyah Boarding School Bandung terus meningkatkan eksistensinya sebagai institusi pendidikan dan keagamaan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Hal ini dilakukan dengan pemberian pelatihan menulis berita yang diikuti oleh seluruh pendidik dan tenaga kependidikan di Laboratorium IPA ‘Aisyiyah Boarding School Bandung, Jumat (25/08).
Kegiatan tersebut menghadirkan dua fasilitator, yakni Sekretaris ABS Bandung, Inding Usup Supriatna dan Guru Bahasa Indonesia SMP ABS Bandung, Haviedz Ammar.
Inding menyampaikan bahwa latar belakang dilaksanakannya pelatihan ini berangkat dari banyaknya kegiatan ABS Bandung yang perlu diketahui oleh masyarakat, khususnya dalam bentuk berita. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan kemampuan menulis, peserta perlu diberikan pelatihan dalam menulis berita yang nantinya akan dimuat di Website ABS Bandung.
“Selain melalui aplikasi Instagram dan TikTok, kegiatan ABS Bandung perlu diketahui oleh masyarakat melalui Website ABS Bandung, baik dalam bentuk berita maupun artikel. Oleh sebab itu, perlu dibekali pelatihan dalam menulis berita agar menarik bagi pembaca,” ungkap Inding.
Dalam pemaparannya sebagai fasilitator pertama, Inding mengungkapkan bahwa salah satu cara sederhana yang digunakan dalam menulis berita dengan metode ‘RuJak Sing LaDa’ ( Rame, biJak, Singkat, Lugas, Datar)
“Bahasa yang digunakan harus ‘RaMe’ (menggembiRakan dan Menyenangkan) sehingga pembaca merasa nyaman saat membaca tulisannya. Kemudian selain ‘rame’, juga harus bijak, artinya menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan tidak memojokan sehingga menjadi pencerah bagi para pembaca,” ungkapnya.
Selanjutnya, Inding mengemukakan bahwa informasi yang disampaikan oleh penulis harus singkat, padat, lugas, tidak berputar-putar sehingga langsung ke pokok bahasan.
Terakhir, ‘datar’, artinya tulisannya harus sederhana dan mengalir bagaikan air saat membacanya. “Kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan paragraf demi paragraf harus sejalan,” pungkasnya.
Bertindak sebagai fasilitator kedua, Haviedz menyampaikan bahwa teori penulisan berita menggunakan metode Kipling, 5 W + 1 H (What, Who, Why, Where, Who, dan How). Demikian juga dalam penulisan berita menggunakan struktur piramida terbalik, antara lain lead, body, dan tail.
Tak hanya itu, dalam kesempatan tersebut Haviedz menyampaikan kaidah kebahasaan yang harus digunakan jurnalis dalam menulis berita.
Menurut Haviedz, sebagai salah satu ragam bahasa Indonesia, selain memperhatikan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, bahasa jurnalistik sangat menekankan bentuk kesederhanaan. Karena itu, bahasa jurnalistik tidak mengenal kasta atau tingkatan sehingga disebut bahasa yang demokratis.
“Contohnya, dalam penggunaan bahasa jurnalistik yang demokatis tidak memakai sapaan ‘bapak’ atau ‘ibu’ dalam penyebutan narasumber. Cukup tulis namanya dan jabatannya saja,” ungkapnya.
Konkretnya, jelas Haviedz, narasumber tidak perlu ditulis ‘menurut Bapak Darojat’, tetapi cukup ‘menurut Darojat’ atau ‘Koordinator Dirosah, Darojat’. Demikian juga tidak perlu ditulis gelar akademik ‘Darojat, S.Pd.’, tetapi cukup ‘Darojat’ karena bahasa berita bukanlah naskah akademik.
Selain itu, Haviedz menambahkan, bahasa jurnalistik juga harus populer, artinya mudah dipahami dan akrab di telinga pembaca, pendengar, dan pemirsa.
Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dan tanggapan yang baik dari seluruh peserta. Hal tersebut terbukti dengan antusiasnya para peserta menanyakan berbagai hal terkait dengan penulisan berita. Kegiatan ini sangat menarik karena selain penyampaian materi, juga dilakukan praktik menulis berita oleh seluruh peserta.
“Pelatihan ini sangat bermanfaat untuk kami sebagai akademisi. Keterampilan menulis telah menjadi salah satu keterampilan paling penting di era digital. Dalam dunia yang semakin terkoneksi pada teknologi, kemampuan untuk menulis dengan baik menjadi kunci sukses dalam berbagai bidang, khususnya dalam menyebarluaskan informasi positif kepada masyarakat dalam bentuk berita yang tentunya dapat dinikmati oleh pembaca,” pungkas Uci selaku peserta pelatihan.
