adminAbs
- Posted on
Kabupaten Bandung – Sabtu (21/10), ‘Aisyiyah Boarding School kembali menyelenggarakan Workshop Peninjauan Visi, Misi, dan Statuta.
Bertempat di Laboratorium IPA ‘ABS Bandung, kegiatan tersebut dihadiri oleh Badan Pembina Pesantren, Dewan Penasihat Pesantren, dan Pimpinan Pesantren ‘Aisyiyah Boarding School Bandung, baik satuan SMP maupun SMA.
Dalam pertemuan tersebut telah dicapai sebuah kesepakatan visi dan misi ‘Aisyiyah Boarding School Bandung, salah satu misinya mewujudkan kader dakwah transformatif.
Dikutip dari https://suaraaisyiyah.id/ bahwa spirit dasar gerakan Al-Mau’n yang diteladankan oleh Kiai Ahmad Dahlan adalah dakwah transformatif. Sebuah strategi dakwah yang tidak sekadar dilakukan di atas mimbar-mimbar masjid, tetapi lebih dari itu adalah dakwah yang punya spirit pembebasan, pemberdayaan, dan pemajuan masyarakat yang terpinggirkan, lemah, dan tertindas.
Senada dengan hal tersebut, Mudir ‘Aisyiyah Boarding School Bandung, Dede Kurniawan menyampaikan bahwa dakwah transformatif merupakan bentuk dakwah yang tidak hanya mengandalkan dakwah verbal dalam memberikan pesan-pesan keagamaan kepada masyarakat, tetapi menginternalisasikan pesan-pesan keagamaan ke dalam kehidupan riil masyarakat, baik melalui karya ataupun aksi nyata.
“Dakwah hari ini tidak cukup dengan bil lisan atau ucapan di depan forum saja, melainkan dakwah hari ini harus mampu bertransformasi, harus berubah, harus bervariasi, bahkan harus berkolaborasi, misal melalui karya seperti podcast atau melalui aksi nyata seperti berinfaq, pada akhirnya kedua hal tersebut mampu membuat orang tergerak hatinya untuk melakukan kebaikan,” tutur Dede.
Lebih lanjut, Dede mengungkapkan bahwa santriwati ‘Aisyiyah Boarding School Bandung memiliki beragam potensi yang mampu menjadikan potensinya sebagai media atau metode dakwah.
“Ketika terdapat santriwati yang memiliki potensi di bidang seni, maka seni tersebut dapat digunakan sebagai media dakwah. Begitu pula yang memiliki keterampilan di bidang bahasa, sains, dan keagamaan. Segala potensi yang dimiliki santriwati dapat menjadi media atau metode dakwah,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut Dewan Penasihat ‘ABS Bandung. Dadang Syaripudin yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat memberikan motivasi untuk terus berupaya melahirkan kader-kader dakwah yang mampu berpacu dengan perubahan zaman.
“Istilah perempuan berkemajuan harus menjadi kata kunci. Jika ‘Aisyiyah memiliki rumusan tersebut, maka ‘ABS Bandung jangan sampai bertolak belakang dengan rumusan tersebut yang justru membuat kemunduran,” ucapnya.
“Perubahan itu sebuah keniscayaan. Jangan betah dengan status quo, sekalipun menyenangkan, jangan betah, sekalipun membahagiakan, berpikir. Kita harus berupaya melahirkan inovasi,” tambah Dadang.
Selain itu, Ketua Badan Pembina Pesantren ‘ABS Bandung, Tia Setiawati menyampaikan bahwa seiring berkembangnya zaman, santriwati ‘ABS Bandung harus dibekali pengetahuan dan keterampilan berdakwah yang adaptif sehingga mampu berdiri tegak membumikan nilai-nilai Islam yang berkemajuan melalui dakwah transformatif.
“Di masa yang akan datang, kader muda sebagai generasi penerus memerlukan kompetensi dakwah yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Untuk mampu melakukan transformasi, maka para kader muda ini perlu dibekali kognitif, skill dan kepekaanya sehingga memiliki pengetahuan yang komprehensif, keterampilan dakwah yang adaptif terhadap perubahan sesuai perkembangan IPTEK. Diasah nuraninya sehingga mampu berdiri tegak membumikan nilai-nilai Islam yang berkemajuan, “ pungkas Tia.
